Catatan Schotalk #6 SB Makasar

Pemateri : Lavinia Disa Winona Araminta

  • Master Applied Linguistics di University of Auckland, New Zealand
  • LPDP Awardee

(Postingan ini merupakan hasil percakapan melalui WhatsApp, semoga bermanfaat 🙂 Semangat meraih mimpi !!)

Halo, teman-teman. Sy Lavinia Disa Winona Araminta, dipanggil Disa. Sy lulus S1 Sastra Inggris dr Universitasi di thn 2014 dan sekarang sedang menempuh S2 Applied Linguistics di University of Auckland, New Zealand.

Halo🙂

1. Bagaimana proses mendapatkan beasiswa?

Studi saya dibiayai oleh LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan). Beasiswa ini dibuka 4x sepanjang tahun. Desember 2014, saya sudah lolos berkas beasiswa ini dan maju ke tahap wawancara. Namun saat itu saya tidak lolos. Januari 2015, beasiswa ini membuka seleksi lagi untuk gelombang pertama di tahun 2015. Saya ulangi lagi aplikasi saya mulai dari isi formulir, melampirkan ijazah (minimal IPK 3.0), melampirkan nilai IELTS (minimal overall 6.5 untuk studi di luar negeri), menulis 3 esai (Sukses Terbesar, Kontribusi untuk Indonesia & rencana studi), surat rekomendasi (saya minta dosen sekaligus atasan saya krn kebetulan saya asisten dosen dan peneliti di FIB UI) & surat izin belajar dari instansi (kalau sudah bekerja). Perbedaan aplikasi saat Desember 2014 dan Januari 2015 adl sebelumnya saya belum mendapat Letter of Acceptance (baru turun H+1 wawancara LPDP) dan saya lampirkan di aplikasi 2015.

Setelah lolos screening berkas, saya mendapat panggilan wawancara di bulan Februari 2015. Lokasinya di STAN, Bintaro utk wilayah Jakarta. Di hari pertama, saya mengikuti Leaderless Group Discussion di mana saya dan kandidat lain dimasukkan dalam 1 grup dan diminta membahas 1 isu sosial selama 45 menit tanpa dikomandoi penilai. Artinya, kami menentukan sendiri siapa yang jadi moderator dan peran-peran lainnya (diminta untuk menyampaikan pendapat dari perspektif pemerintah, NGO, akademisi, dll.). Saat itu saya ditunjuk (sekaligus menawarkan diri menjadi notulen) dan topik diskusi adalah pesawat LCC. Hari berikutnya, saya menghadiri wawancara individu dengan 3 panelis. Pertanyaan yang diajukan seputar apa jurusan yang diambil, kampusnya di mana, MENGAPA ambil di sana (pertanyaan ‘mengapa’ ini sering keluar jadi jawablah dengan jujur tapi diplomatis. Know the WHY sebelum mendaftar beasiswa), mengapa S2, mengapa di luar negeri, ingin riset tentang apa nanti, pengalaman organisasi hingga kondisi keluarga. Maret 2015 saya mendapat pengumuman kalau lolos beasiswa. Untuk beasiswa LPDP, tahapnya tidak sampai sini saja karena harus menghadiri PK (Persiapan Keberangkatan) selama seminggu untuk dibekali materi kepemimpinan, motivasi dan teknis pencairan beasiswa. Oh ya, kalau mau tahu lebih lanjut soal beasiswa ini, teman-teman bisa baca-baca blog PK angkatan saya www.suryanara.org karena ada banyak sharing dari penerima LPDP angkatan saya.

2. Persiapan apa saja yang harus dipersiapkan?

LPDP mensyaratkan 6 bulan paling cepat sejak lolos seleksi hingga masuk kuliah. Jadi misalnya ingin kuliah September 2016, paling lambat ikut seleksi gelombang 1 yang pengumumannya sekitar Maret 2016. Kalau bisa mendaftar sebelum itu supaya persiapan makin matang. Saya pribadi merumuskan beberapa langkah untuk studi lanjutan.

a) RISET.

Refleksi lagi kenapa ingin S2. Ada banyak yang mendaftar beasiswa, ingin S2 karena ikut-ikut saja. Ada banyak alasan. Biasanya akan terkait dengan pekerjaan dan cita-cita kontribusi di masa depan (dan ini sering ditanya saat wawancara). Riset negara mana, musimnya, kulturnya. Riset kampusnya, rankingnya (QS World Rankings atau Times Higher Education), komponen programnya apa saja. Kalau bisa, datangi pameran pendidikan setempat supaya dapat info yang lebih jelas dari perwakilan kampusnya langsung.

b) IELTS.

Belajar. Baca soal-soal, kerjakan dan terus latihan. Tiap program studi di tiap universitas punya standar IELTS masing-masing jadi jangan lupa riset soal ini. Bisa juga ambil TOEFL iBT tapi saya dulu pakai IELTS. Ambil tes prediksi gratisan di Internet. Kalau sudah siap, ambil tesnya.

c) DAFTAR KAMPUS.

Prosedurnya beda-beda tiap program studi. Program studi saya, Master of Arts in Applied Linguistics, hanya meminta ijazah, CV, IELTS (biasanya boleh disusulkan), dan form pendaftaran. Ada kampus lain yang meminta esai atau surat rekomendasi. Oh ya, ada beberapa kampus yang meminta biaya pendaftaran. Jika lolos LPDP dan lolos kampusnya, biaya pendaftaran ini bisa minta ganti.

d) DAFTAR BEASISWA.

Ada banyak beasiswa selain LPDP dari tiap negara. Misal NZAS ASEAN Scholarship (yang sekarang sedang dibuka) dari pemerintah Selandia Baru, Chevening dari UK, Fullbright dari USA, dan Stuned dari Belanda.

Btw perlu diketahui kalau tidak semua yang kuliah lanjutan meggunakan beasiswa. Cara lainnya yang lebih berat (dan sedikit riskan) adalah kuliah di negara yang menyediakan pendidikan gratis untuk mahasiswa internasional seperti Jerman dan Norwegia (tapi tidak semua institusi). Yang perlu dipikirkan adalah biaya hidup, biaya buku, dsb. Mahasiswa Indonesia di sini yang tidak menggunakan beasiswa biasanya bekerja paruh waktu untuk membiayai hidupnya di sini. Tapi jadikan ini opsi terakhir saja, tetap perjuangkan beasiswa dulu.

3. Jurusan apa aja yg bisa tersedia di University of Auckland, NZ?

Kampus ini cukup umum jadi tidak khusus di satu bidang saja. Ada Business, Law, Arts (sastra, bahasa, sejarah, filsafat, linguistik, dll), Music, Architecture, dan sebagainya.

4. Bagaimana sistem perkuliahan di University of Auckland dan prospeknya seperti apa?

Umumnya, kampus ini mensyaratkan mahasiswa punya Honours atau Postgraduate Diploma sebelum Masters (S2) tapi hampir tidak ada kampus di Indonesia yang membekali dgn program-program ini setelah S1 sehingga mahasiswa Indonesia akan mengikuti program 2 tahun (pengecualian untuk Geotermal yang dipaketkan 1 tahun dan Bisnis sekitar 1,5 tahun). Tahun pertama Postgaduate Diploma. Kalau nilai memenuhi, tahun kedua bisa lanjut Masters. Tapi program saya sendiri beda karena saya otomatis masuk ke Masters tapi tetap selama 2 tahun. Jadi beda-beda. Jenisnya ada yang coursework (ambil mata kuliah sesuai sks yang diminta), research (jadi sebelum aplikasi sudah punya proposal penelitian, mirip S3), atau kombinasi keduanya. Program saya adalah kombinasi karena saya mengambil mata kuliah tapi diberikan komponen riset meski tidak sebesar mahasiswa research only.

5. Bagaimana sikap mahasiswa internasional terhadap mahasiswa Indonesia?

Umumnya baik. Diskriminasi nyaris tidak ada di Auckland. Siapapun asal stand out secara akademik akan dihargai. Dosen pun tidak membeda-bedakan, apalagi kebanyakan mahasiswa internasional berasal dari Asia jadi bisa dibilang Asians cukup mayoritas di lingkungan kampus.

6. Bagaimana mengatur pola hidup di NZ?

Yang terasa adalah musim dan waktu salat. Di sini musim berkebalikan dengan di Eropa dan Amerika karena Desember-Februari adalah musim panas, bukan musim dingin. Matahari jadi lebih lama (Isya pukul 10.30 pm dan Subuh pukul 4.30 am). Tapi karena kebetulan bulan puasa kemarin jatuh di musim dingin, waktu puasa lebih pendek. Suhu di sini umumnya dingin dan sejuk. Musim panas maksimal 22 C sementara kalau di Australia bisa mencapai 40 C. Musim dingin juga tidak seekstrem Eropa karena minimal 0 C di Auckland (di sini tidak ada salju. Salju turun di South Island yang jauh lebih dingin). Makanan halal banyak tersedia walau tidak di setiap sudut kota. Daging halal bisa dibeli dari butchery (bukan yang di supermarket). Produk Indonesia seperti Indomie dan kecap Bango juga dijual di supermarket atau Asian grocery stores. Kebanyakan mahasiswa memasak supaya hemat. Kalau dikonversi ke rupiah, semua makanan akan jadi mahal tapi kalau pandai mengatur, seminggu cukup 300-500 ribu rupiah. Yang mahal adalah akomodasi. Rata-rata 200 NZD per minggu (atau lebih mahal). Kira-kira sebulan bisa habis 800-1000 NZD (sekitar 8-10 juta rupiah). Hidup di sini umumnya tidak terlalu sulit dijalani apalagi kalau tinggal di tengah kota dekat kampus. Fyi, di sini ada ratusan (atau ribuan) orang Indonesia yang bekerja dan sudah menetap di sini sehingga jangan khawatir atau merasa sendirian.

7. Sharing life experience di NZ?

Selain kuliah, saya ikut Glee Club, semacam klub menyanyi dan menari. Saya sempat tampil di annual show dan Attitude Awards, acara penghargaan untuk orang disabilitas yang berprestasi, yang disiarkan di TV nasional. Enaknya di NZ adalah saya tidak perlu khawatir akan dicap aneh karena berhijab. Mereka sangat ramah dan welcome, bahkan tidak pernah bertanya tentang hijab yang saya kenakan. Saya juga ikut PPI Auckland dan HUMIA (himpunan umat Islam oleh orang Indonesia) yang beberapa kali mengadakan acara seperti Auckland Indonesian Festival dan berpartisipasi di Islam Open Day di Auckland. Bagi penggemar alam atau penggemar film Lord of the Rings, NZ bisa jadi pilihan yang menarik karena bisa mengunjungi beberapa tempat. Agustus lalu saya ke Wellington dengan penerima beasiswa LPDP di sini untuk berkunjung ke KBRI sekaligus sempat mampir ke Weta Cave, workshop yang membuat berbagai kostum dan properti film-film seperti LOTR, Narnia, dan Tin-Tin.

Pertanyaan 1 :

Untuk mencari melanjutkan studi, sebaiknya cari Beasiswanya dulu atau LOA kampusnya dulu kak?

Utk Darwir, barengan aja krn ada yg minta syarat LoA, ada yg otomatis dpt kampusnya. Kalau mau fokus, LoA dulu.

Pertanyaan 2 :

untuk living cost yg d kasi lpdp brapa? Trus tu pernah gagal brapa kali d apply lpdp

2000 NZD. 1x gagal. Sekarang peraturan LPDP, 2x gagal wawancara tidak bisa daftar lg seumur hidup. Kalau gagal administrasi saja, bisa daftar lg seterusnya.

Pertanyaan 3 :

Kenapa 2x gagal wawancara ga boleh daftar LPDP lagi ka?

Anggian, karena begitu peraturan terbaru dr LPDP sejak 2015. Kenapa ditetapkan spt itu? Sy kurang tau. Itu aturan dr pemerintah kita sbg pemberi dana🙂

Pertanyaan 4 :

kenapa kak diza pilih NZ untk studi s2 nya d banding negara yg lain? 2.Apkh semua jurusan d auckland sistemnya pke post gradute? Ktika nilainya tdk memenuhi gmna kk?

karena sy ada 1 professor yg ingin sy temui dan 1 bidang dgn topik skripsi & tesis saya nanti. Selain itu, NZ sangat aman dibanding negara lain, musim tdk ekstrem, dan ramah Muslim. Ya, hampir semua krn kampus sy tdk ingin anak S1 ‘kaget’ lgsg master. Opsi lainnya adl mendaftar lgsg Master. Jgn postgrad diploma. 2 teman sy tdk memenuhi dan akhirnya terpaksa pulang hanya dgn gelar postgrad diploma.

Pertanyaan 5 :

1. Saya mau tanya mbak dulu basiknya s1 ataukah d4? Karena saya kesulitan untuk mencari program s2 di kampus LN.

2. Bagaimana dengan mahasiswa dgn basik lbh ke praktek seperti saya apakah dapat mengambil program riset di aucland? Dan apakah diperlukan teori yg mendalam mengenai bidang riset nanti? Sedangkan materi perkuliahan d4 lbh diarahkan ke praktek.

Terima kasih

Saya S1. Apakah kamu D4? Teman sy dr Bandung bisa dpt LPDP dan skrg S2 di Belanda tp memang bukan kampus yg top sekali. Teori bisa dipelajari tp memang mereka akan lihat pengalaman riset kamu. Sebaiknya nabung dr skrg dgn cara ikut penelitian dosen. Kamu jg bs re-assess lg kenapa memilih jalur riset krn di sini bs kok via coursework, jd tdk ada riset.

Pertanyaan 6 :

1. Saya sering mendengar bahwa proses seleksi LPDP sangat rumit, menurut mba disa apakah itu benar dan jika benar menurut mba disa apa yg membuat prosesnya menjadi rumit?

2. Apakah biaya yg diberikan LPDP selalu tepat waktu dan selalu fully funded?

Terima kasih sebelumnya

lbh tepatnya tidak dapat diprediksi. Prosesnya tidak rumit krn di jaman sy hanya ada 2 tahap: administrasi & wawancara (plus LGD). Yg dicari adl yg siap dan tahu kenapa mereka mau S2 atau S3 dan tahu ingin berbuat apa. Yap, selalu tepat waktu dan fully funded, tidak mungkin kurang krn mereka mengelola dana sendiri, tdk lewat badan pemerintah atau kementerian lain.

Pertanyaan 7 :

Mbak, gmana prosedur untuk dpt LoA di Auckland? Dan hal2 apa yg mbak lakukan pertama kali? Apa kita hrs mengonyak advisor dsana? sya juga pengen apply yg Applied linguistic mbak fokus studi S1 saya juga linguistic … Mohon bimbingannya 🙏😊

senang sekali kamu di jurusan yg sama. Spt yg sebutkan sebelumnya di materi, sy hanya kumpulkan CV, form, IELTS, ijazah spt yg diminta. Pendaftarannya semua online lewat website kampus. Cukup jelas kok krn bs isi form online jg. Tdk perlu kontak supervisor, ini hanya utk menulis disertasi ketika sudah kuliah di sini. Tp boleh punya gambaran ingin dibimbing siapa (kalau dosennya mmg sdg menerima mahasiswa bimbingan).

Pertanyaan 8 :

Tlg jelaskan scr singkat seputar petanyaan ketika wawancara LPDP serta jawaban mbak dl?

Seperti knp pilih LN n kampus ini, apa yg akan anda lakukan untuk indonesia kedepannya, sukses terbesar dlm hidup, dll.

Saat itu sy sempat riset internet yaitu baca SEMUA blog ttg pengalaman seleksi LPDP dan catat semua pertanyaan yg diajukan ke penulis2 blog itu. Sy copas ke sini dan tolong sebarkan ke yg lain ya.

POSSIBLE QUESTIONS ASKED IN LPDP’S INTERVIEW

(Compiled from awardees’ blogs. Some might be redundant and not ordered. May cover but not limited to:)

1. Ceritakan tentang dirimu.
2. Mengapa memilih univ tsb?
3. Mengapa memilih negara tsb?
4. Sudah dapat LoA?
5. Mengapa harus lanjut ke luar negeri?
6. Visi dan misi ke depan?
7. Organisasi yang sangat berkesan dan membentukmu?
8. Ekspresikan rasa cintamu pada bangsa Indonesia!
9. Mengapa memilih LPDP?
10. Apakah yakin akan menerima beasiswa ini?
11. Alasan lanjut studi?
12. Rencana setelah studi?
13. Relevansi Pancasila dengan kondisi Indonesia saat ini?
14. Bagaimana jika ideologi diganti dengan ideologi Islam?
15. Apakah ahli dari jurusan yang kamu pilih masih dibutuhkan di Indonesia?
16. Atau jumlahnya terlalu banyak sehingga tidak ada gunanya mengambil jurusan tsb?
17. Sebutkan pengalaman kepemimpinan pribadi!
18. Prestasi tertinggi dan relevansi dengan jurusan?
19. Sukses terbesar dalam hidup?
20. Rencana karir ke depan?
21. Pengabdian pasca studi?
22. Rencana hidup di negara tsb? (Tantangan, cara mengatasi, apakah yakin bisa berjilbab, dsb)
23. Mengapa mengambil jurusan tsb?
24. Bagaimana kondisi keluarga mempengaruhi kamu?
25. Mata kuliah apa saja yang akan diambil?
26. Urgensi penelitian kamu (tesis atau disertasi) bagi Indonesia?
27. Profesor yang kamu rencanakan menjadi pembimbing?
28. Kamu jenis pemimpin yang seperti apa?
29. Bagaimana teman-teman kamu memandang kamu?
30. Apa makna nasionalisme menurut kamu?
31. Apa makna integritas?
32. Moto hidup kamu?
33. Apa pesan orang tua saat kamu kecil yang masih kamu ingat?
34. Apakah kamu punya pasangan?
35. Apa yang kamu lakukan kalau bertemu dan menikah dengan orang asing di negara tempat kamu belajar?
36. Sebutkan sila-sila dalam Pancasila!
37. Nyanyikan lagu nasional/daerah dan hymne universitas/fakultas/jurusan!
38. Apa landasan bagi kamu yang membuat kamu kuat dalam masa-masa sulit?
39. Ceritakan keterlibatanmu dalam suatu komunitas di masyarakat!
40. Menjadi warga negara yg baik dan taat aturan itu seperti apa?
41. IELTS score?
42. Tell us about your journal publication.
43. Tell us the advantages for your institution.
44. Is your research topic important?
45. How often do you go abroad?
46. Lulusan mana? Kerja di mana?
47. Kenapa memilih jurusan ….. saat S1?
48. Kamu dari keluarga yang seperti apa?
49. Apa rencana kamu 5-10 tahun ke depan?
50. Apakah ingin melanjutkan S3 setelah S2?
51. Apabila kamu ditawari bekerja oleh perusahaan asing dgn gaji menjanjikan padahal awalnya ingin jadi dosen, mana yg kamu pilih?
52. Pendidikan dalam UUD 1945 ada dalam pasal berapa?
53. Pernah tidak kamu melakukan kegiatan yang mengaplikasikaj ilmu kamu di masyarakat? Apa?
54. IPK berapa?
55. Kuliah S1 berapa lama?
56. Apakah ada univ lain yg kamu minati?
57. Jika beasiswa LPDP tidak mencukupi, apa yang kamu lakukan?

Jawabannya sgt bervariasi ya. Utk jawaban sy, gak terlalu ingat tp sempat sy tulis di 1 postingan di web awardee LPDP angkatan saya di http://www.suryanara.org

Berikut tulisan sy

Kuliah S2 di Middle Earth sekaligus Narnia

Selandia Baru memang tidak sering menjadi pilihan bagi pelajar Indonesia untuk melanjutkan studi, tapi justru inilah yang membuat saya tertarik untuk mengambil program Master of Arts in Applied Linguistics di the University of Auckland, Selandia Baru.

Ada banyak pertimbangan saat kita memilih program studi di universitas tertentu. Saya sendiri memilih MA in Applied Linguistics di the University of Auckland karena beberapa alasan. Pertama, peringkat kampus tersebut adalah 94 di dunia (berdasarkan QS World University Ranking 2014). Kedua, bidang English for Specific Purposes (bidang ilmu yang ingin saya tekuni) di sana cukup berkembang, terlebih dengan adanya Dr. Helen Basturkmen sebagai salah satu ahli ESP yang produktif menulis. Apalagi saat menulis skripsi S1, saya banyak mengutip buku dan jurnal karya beliau. Keberadaan pengajar tertentu seperti ini kadang menjadi motif yang cukup kuat mengapa kita memilih berkuliah di sana. Ketiga, kondisi sosiolinguistik Selandia Baru dan Indonesia mirip sehingga saya merasa dapat belajar sesuatu tentang pengajaran Bahasa Inggris formal di sana. Keempat, faktor negara juga banyak berpengaruh terhadap keputusan kita. Kondisi Selandia Baru yang aman dan damai untuk ditinggali, serta tidak terlalu jauh dari tanah air, membuat saya yakin memilih untuk melanjutkan studi ke negara ini. Kelima, ada faktor tambahan yang barangkali tidak terlalu penting bagi orang lain tapi berarti bagi saya. Saya adalah fans berat novel dan film fantasi, khususnya Narnia dan the Lord of the Ring, dan Selandia Baru sudah lama dikenal sebagai tempat set syuting kedua film tersebut. Dengan kata lain, motivasi bisa muncul tidak melulu karena alasan akademik.

Terkait proses seleksi masuk, setiap universitas dan program studi memiliki mekanisme yang beragam dalam melakukan seleksi sehingga penting bagi pendaftar untuk melakukan riset lengkap mengenai syarat pendaftaran dan mekanisme seleksinya. Sumber paling akurat adalah situs resmi universitas. Cari program studi yang kamu tuju dan lihat detil informasinya. Biasanya akan ada info tentang deskripsi dan tujuan program, daftar mata kuliah yang wajib diambil, nama pengajar, contoh judul tesis, syarat pendaftaran, dan nama kontak serta alamat surel orang yang bertanggung jawab atas program itu (yang biasanya adalah kepala departemen atau program studi). Jika ada info yang belum dicantumkan, langsung tanyakan saja via surel ke koordinator program atau bagian penerimaan (admission). Surel kita biasanya akan dibalas maksimal dalam 3 (tiga) hari kerja.

Saat mendaftar, saya dibantu oleh agen pendidikan yang memberikan free service. Sebetulnya, karena prosesnya online, mendaftar sendiri pun tidak masalah, malah terkadang lebih simpel karena tidak melibatkan pihak ketiga. Karena MA yang saya daftar adalah coursework dan bukan murni research program, yang diminta hanya formulir pendaftaran (bisa diisi online), scanned copy ijazah serta terjemahannya, scanned copy transkrip nilai serta terjemahannya, scanned copy paspor, scanned sertifikat IELTS dan CV. Sebagai tambahan, program MA in Applied Linguistics di the University of Auckland tidak mensyaratkan nilai IELTS yang terlalu tinggi dan disamaratakan dengan program studi lainnya yaitu overall band 6.5 dan tidak ada komponen di bawah 6.0.

Untuk MA in Applied Linguistics, kriteria penerimaan memang tidak secara rinci disebutkan, tetapi saya dapat menyimpulkan bahwa CV dan transkrip nilai berperan penting. Sebagai bocoran dari pengalaman saja, seorang senior yang IPK-nya jauh lebih tinggi di atas saya mendaftar di 2 (dua) program yang berbeda di the University of Auckland (salah satunya adalah program yang sama dengan saya). Namun, dia tidak diterima di keduanya. Saat dia mendaftar ke King’s College London yang peringkat dunianya jauh lebih tinggi, dia justru diterima. Kriteria penerimaan memang kadang tidak dapat ditebak sehingga akan lebih baik jika pendaftar mendaftar di beberapa program studi dan universitas sekaligus.

Saya menunggu sekitar 9 (sembilan) minggu sampai saya mendapat surel dari pihak kampus yang menyatakan bahwa saya mendapatkan international offer. Di dalamnya akan ada panduan tentang apa yang harus dilakukan. Langkah selanjutnya yang paling penting adalah accept the offer. Kemudian, kita bisa mulai mengurus student visa. Tuition fee dibayarkan maksimal pada hari pertama kuliah dan baru terlihat nominalnya setelah kita memilih mata kuliah dan enrol di dalamnya.

Sekian pengalaman mendaftar program S2 dari saya. Semoga ada manfaat yang dapat diambil dari tulisan ini dan semoga teman-teman yang berminat melanjutkan studi di Selandia Baru sukses dalam aplikasi kampus dan beasiswa serta dapat mewujudkan mimpi kalian untuk menginjakkan kaki di Middle Earth sekaligus Narnia. Pertanyaan lebih lanjut mengenai topik ini dapat dilayangkan ke lavinia.disa@suryanara.org

Agen yg sy maksud adl IDP. Suatu hari sy datang ke pameran pendidikan dan dihubungi oleh mbak2 IDP. Tp baiknya liat2 dl ya servis yg diberikan krn agen lain minta fee.

IDP ini tempat sy pertama mendapat form dan membuat student visa. Semua gratis krn mereka akan dpt fee dr kampus sy jika membawa mahasiswa baru.

Kalau kalian ragu dgn teknis aplikasi kampus, bs juga yg spt ini setidaknya ada orang yg bs diajak ngobrol dan kasih bimbingan teknis soal aplikasi. Jd gak akan khawatir sendirian.

Pertanyaan 9 :

Apakah yang bisa ikut lpdp mengisyaratkan org yg harus berorganisasi bagaimana dng yg akademis saja.. Kemudian kalo mau daftar luar negeri jurusan yg dipilih lewat lpdp harus linear?

jadi form LPDP memang mencakup banyak aspek spt organisasi, riset, pengabdian masy, prestasi, dll. Maksudnya akademis apakah IPK atau riset? Kalau riset, bagus. Itu jg kegiatan. Kalau maksudnya IPK sj tanpa kegiatan jg dicoba sj, tidak apa. Tp sebisa mungkin isi semua form. Barangkali kamu tdk terlalu aktif tp kalau panelis menilai kamu punya ‘karakter’ pemimpin, kamu akan dipilih. Boleh tdk linier asal, sekali lg, TAHU knp pindah jurusan. Misal krn sudah lama pengalaman di bidang yg baru selama S1 atau alasan lain. Tp jgn diada2kan ya hanya krn ingin. Teman sy ingin pindah jurusan tp tdk lolos wawancara LPDP 2x. Alasannya mungkin krg kuat.

Pertanyaan 10 :

1. Menurut kakak, kira-kira  Presentase antara kuliah dan organisasi, Mana yang harus dipentingkan?Trus mana yang memiliki peluang lolos lebih besar, apakah tipe organisatoris ato yg ber ipk tinggi tapi organisasinya kurang atau bahkan tdk ada?

2 . Menurut kaka CV yang baik itu seperti apa ya ? Apakah harus mencantumkan  semua pengalaman organisasi dan prestasi?

3.  Trus kalo misalnya kalo mau apply kita butuh mentranslate ijazah & transkrip nilai atau tdk  ? Karena kan kebanyakan dokemen yg dimiliki ber B. Indo

Irma, kuliah nomor 1 tp jangan sampai mengganggu organisasi. Artinya, dapatkan nilai baik tp utk dpt nilai baik, tdk perlu mengunci diri dan menghindar dr kegiatan. Pasti ada sesuatu di luar kuliah yg kamu suka. Gak perlu yg besar2. Kamu suka gambar? Gabung klub gambar lalu jual gambarmu utk fundraising. Sdh ada poin 1. CV yg baik adl yg ringkas dan jelas. Pilih yg sesuai dgn apa yg mau diapply saja dan ksh deskripsi singkat. Yap harus ditranslate. Kebetulan di UI ada jasa terjemahan ijazah utk semua wisudawan.

👏👏👏👏

Semangat ya semua! Yg paling penting adl RISET. Internal, cari tau kenapa mau S2, mau apa, gali sedalam2nya. Jangan ikut2an yg lain ya. Know yourself. Eksternal, baca sebanyak2nya blog, buku, apapun utk mendukung riset internal td. Sukses dan semoga kalian bs lanjut studi🙂

👏👏🎉👏🎉👏🎉👏🎉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s