Coretan, Physics Instrumentation

Pemanfaatan UAV untuk Pengamatan Cuaca

stmkg-aero-team

UAV (Unmanned Aerial Vehicle) atau yang lebih sering disebut drone merupakan salah satu robot penjelajah udara tanpa awak (pilot pengendali) di dalamnya. Instrumen ini juga sering disebut sebagai PTTA (Pesawat Terbang Tanpa Awak) atau PUNA (Pesawat Udara Nir Awak). Pesawat ini telah disetting secara otomatis berdasarkan program yang sudah ditanamkan pada sistem kompter sehingga dapat dikendalikan dari jarak jauh menggunakan remote control yang biasa disebut sebagai RPV (Remotely Piloted Vehicle).

Seiring berkembangnya zaman BMKG membutuhkan instrumen yang mampu melakukan pengamatan cuaca secara praktis, maka dari itu dibentuk suatu tim STMKG Aerosonde yang merupakan tim yang mengembangkan instrumen pengamatan cuaca dengan memanfaatkan UAV untuk pengamatan udara atas dengan menggunakan Rotary wing. Dalam rotary wing ini terdapat beberapa sensor cuaca yaitu, sensor suhu, tekanan, kelembaban dan karbon monoksida, serta kamera untuk kendali visual. Sensor payload telah dikalibrasi di BBMKG Wilayah II Ciputat dan uji terbang di STMKG dapat mencapai ketinggian 800 m.

Rotary wing merupakan sayap berputar yang pada propiler dapat mengalirkan udara dari atas ke bawah sehingga tekanan di bawah pesawat lebih tinggi dari pada di atas pesawat, dengan demikian pesawat dapat terbang. UAV Multirotor ini sudah dapat digunakan walaupun belum dilengkapi dengan sensor arah dan kecepatan angin. UAV berbasis multirotor ini memiliki kelebihan dapat terbang secara vertikal dan dapat dipertahankan pada posisi ketinggian yang diinginkan. Salah satu kelemahan dari model rancangan tahap pertama adalah pengiriman data. Komunikasi data untuk untuk auto pilot masih perlu dikembangkan lagi karena jarak yang baru mencapai 800 meter.Keterbatasan jarak tempuh UAV juga masih terbatas dalam radius 1,5 Km sehingga cukup sulit untuk pengamatan cuaca dalam skala yang luas seperti pengamatan saat terjadi kebakaran hutan.

Saat ini STMKG Aerosonde sedang mengembangkan UAV X01 yang berbasis Fixed wind / sayap tetap yang menggunakan konsep teori dinamika fluida (aliran udara) untuk memeroleh gaya angkat pesawat. UAV ini telah dilengkapi dengan auto pilot yang di dalamnya terdapat komponen GPS, kompas, dan telemetri. Telemetri ini berfungsi sebagai penghubung antara pesawat dengan ground station sehingga tidak diperlukan remote control lagi jika menggunakan model full auto pilot.

STMKG Aerosonde merupakan satu karya dari Muhammad Syamsudin yang saat ini bekerja di BBMKG Wilayah IV Makasar, ide ini berawal dari sebuah hobi yang mana bisa diimplementasikan dalam sebuah pekerjaan. Sehingga dalam drone tersebut ditanamkan sensor-sensor cuaca sehingga akan dapat dmanfaatkan dalam bisang meteorologi. Kemudian data yang didapatkan disimpan di memory yang selanjutnya secara real time dikirimkan ke ground station.

Noted : Postingan ini merupakan resume Online Group Discussion (OGD) #25 yang dilaksanakan pada hari Kamis 08 Desember 2016 dengan tema Ekspos Inovasi STMKG

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s