Coretan

Sudah sejauh ini ternyata

Mataram, 18 Februari 2017

11.57 WITA

Assalamualaikum πŸ™‚ πŸ™‚

Alhamdulillah wa syukurillah maka nikmat TuhanMu yang manakah yang kamu dustakan??

Aaaak pengen nangis seneng rasanya, huhu. Entah kenapa. Seneng akhirnya bisa melangkah sejauh ini bisa sampai titik ini.

Kalau mengingat beberapa tahun yang lalu ketika masih SMA, sungguh saya malu dengan diri saya sendiri. Masa-masa dimana saya masih jauh dari agama Islam, naudzubillah. Masa dimana saya pernah bahkan sering mengabaikkan nasehat orang tua. Namun, ternyata Allah masih sayang saya. Hingga akhirnya Allah membukakan pintu hati saya dan memberikan hidayahNya. Kalau diceritakan mungkin bisa berlembar-lembar atau malah jadi novel, hihi.

Cerita itu bermula ketika saya masuk kuliah 2013 lalu. Saya yang masih awam waktu itu, masih labil dengan hijab, jadi penasaran kenapa banyak sekali akhwat di kampus memakai hijab lebar. Sampai-sampai di organisasi yang bukan merupakan organisasi kerohanian pun banyak juga yang menggunakan jilbab lebar. Saking penasaran dengan polosnya saya sering sekali tanya ke mbak-mbak di organisasi saya β€œmb kenapa pakai jilbab lebar, kan saya jadi takut, hihi” dengan santai mereka menjawab yang intinya β€œmenutup aurat itu kewajiban dek; kenapa harus takut; suatu saat kamu akan menemukan jawabanmu sendiri;”. Sebenarnya saya merasa pertanyaan saya belum terjawab, saya belum ngeh dengan jawaban yang mereka berikan.

Seiring berjalannya waktu entah kenapa saya malah merasa nyaman bersama mereka. Tanpa memaksa mereka selalu mengajak saya ke pengajian salah satunya pengajian keputrian. Awalnya saya masih ogah-ogahan namun lama-lama saya luluh. Dan alhamdulillah di pengajian pertama itu saya bertemu dengan mb Latifah mahasiswa UNY angkatan 2010 yang sangat-sangat menginspirasi. Pengen nangis klo inget waktu itu hingga akhirnya tanpa paksaan dan ajakan lagi saya niatkan dalam hati saya untuk berhijrah menjadi lebih baik.

Awal 2014 saya masih labil juga pakai hijab kadang pakai hijab lebar kadang kecil dan waktu itu masih seringan pakai celana jeans. Akhir 2014 alhamdulillah akhirnya sudah bisa konsisten pakai jilbab lebar dan syari walaupun ada saat-saat dimana saya harus pakai hijab kecil (read seragam dinas kampus; kampus baru) tapi tetap saya usahakan memakai jilbab syari kalau untuk pakaian selain seragam. Waktu itu masih masih belajar konsisten pakai rok, tapi masih labiliumm juga ternyata.

Mulai tahun 2015 alhamdulillah sudah mulai bisa iqtiqomah perihal hijab dan pakaian syari walaupun masih mengikuti fashion. Dan tahun itu juga alhamdulillah semakin didekatkan dengan majelis keagamaan. Sebenarnya pengen ikut pengajian tapi kadang masih males dan alhamdulillah setidaknya seminggu 1 kali di kampus ada pengajian wajib akhirnya mau ga mau harus datang. Dan di majelis itu alhamdulillah banyak sekali ilmu yang saya dapatkan. Bukan hanya perihal hijab dan menutup aurat namun masih banyak ilmu fiqih dan akidah yang saya dapatkan disana. Akhirnya saya pun meniatkan pada diri saya untuk menjadi muslimah yang semakin hari semakin baik akhlaknya dan bertambah ilmu agamanya.

Tahun 2016 dimana saya diberi kesempatan untuk mengabdikan diri di institusi pemerintah. Menjadi seorang pegawai dan sekaligus perantau. Memulai hidup sendiri tanpa kenalan dan sanak keluarga di pulau yang asing bagi saya. Mulai ada konflik dengan lingkungan sekitar. Alhamdulillah, dan ternyata semua itu yang mendewasakan saya hingga tanpa saya sadari saya sudah berada di titik ini, sudah sejauh ini saya melangkah. Saya bukan anak kecil lagi yang harus dituntun untuk melakukan ini itu. Justru saya lah yang harus menuntun diri saya sendiri, melangkahkan kaki menuju majelis keagamaan, memerbaiki diri, meningkatkan ibadah, dan tentunya berproses untuk menjadi muslimah yang lebih dewasa. Menutup aurat itu kewajiban, maka sebisa mungkin saya akan menggunakan pakaian syari sesuai syariat Islam. Ilmu agama itu bisa didapat dimanapun, maka sebisa mungkin akan menghadiri pengajian di lingkungan saya maupun belajar mandiri melalui internet (youtube, baca artikel, dll). Muslimah itu harus tangguh, maka saya akan berusaha mengontrol emosi saya dan menjadi muslimah yang lebih mandiri. Tentunya masih banyak aspek lain yang harus diperbaiki entah itu akhlak, aqidah, dan perilaku saya, lisan saya, menjaga pandangan, serta bagaimana menjaga sikap terhadap lawan jenis. Oh ya alhamdulilah tahun 2016 juga Allah membukakan niat saya untuk bertamu ke Baitullah bersama keluarga, insyaAllah.

Tahun 2017, alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk menikmati kehidupan di tahun ini. Melanjutkan niat tahun sebelumnya untuk bertamu ke Baitullah adalah kewajiban saya, tentunya dengan mulai menabung sedikit demi sedikit, walaupun masih belum konsisten juga nabungnya. Semakin mendekatkan diri kepadaNya dan meningkatkan kegiatan ibadah itu adalah sebuah keharusan. Dan yang tak kalah penting juga memikirkan masa depan mau dibawa kemana #eh. Bukan lagi masanya telfonan atau chattingan hal yang ga perlu sebenarnya sama teman lawan jenis walaupun terkadang saya bingung bagaimana cara menyampaikannya yang alhasil orang tersebut jadi marah dengan saya. Tapi ya gmn lagi yang penting niat saya bukan untuk memutuskan tali silaturahmi, umur 20an itu harus bisa membatasi dan menjaga diri. Perihal menutup aurat sepertinya tidak perlu disinggung lagi karena hal itu sudah seharusnya menjadi kesadaran masing-masing, setidaknya berusaha menggunakan pakaian syari / gamis untuk keluar rumah atau juga di rumah.

Tahun 2018 dan tahun-tahun berikutya (?) semoga Allah masih memberikan kesempatan umur panjang untuk bisa melanjutkan postingan ini, insyaAllah. Dan tentunya juga memberikan kemudahan serta kelancaran untuk semakin istiqomah dengan hijrah kita masing-masing untuk semakin meningkatkan keimanan kita dan lebih dekat denganNya. Dan yang paling penting semoga kita kita nanti bisa dipertemukan di tempat paling mulia di JannahNya insyaAllah, Aamiin aamiin Yaa Rabb.

Wassalamualaikum

“Dan barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan (rezeki) yang banyak” (Q.S An Nisa : 100)

❀ ❀ ❀

***Waaa ga terasa ternyata udah 3 lembar saya mendongeng, hihi. Maafkan saya, kadang suka baper kalau nulis kaya ginian.

#sampai_mana_hijrahmu

#mari_berproses

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s