Coretan, Lombok

Pesona Ramadhan Pertama di Pulau Seribu Masjid

Hasil gambar untuk islamic center ntb

Pulau Lombok, siapa yang tak mengenalnya. Pulau dengan keindahan alam pun dengan keindahan masjidnya. Tak heran jika Pulau Lombok menjadi salah satu destinasi paling menarik bagi siapapun yang mengunjunginya, termasuk saya.

Liburan ke Lombok untuk snorkling dan menyaksikan perayaan Maulid Nabi di Desa Bayan, Lombok Utara adalah impian yang saya tuliskan dalam dream list sejak 8 tahun lalu. Alhamdulillah wa syukurillah Allah adalah sebaik-baiknya perencana. Dia bahkan memberi saya kesempatan ‘liburan’ menjadi seorang perantau selama 398 hari atau tepat 1 tahun 1 bulan di Lombok.

28 Februari 2016 adalah kali pertama saya menginjakkan kaki di Pulau Lombok untuk melaksanakan kegiatan PKL kampus di BMKG Meteorologi Bandara Internasional Lombok. Betapa bahagianya saya waktu itu bisa mengunjungi pulau yang sangat saya impikan. Kesan pertama saya adalah banyak sekali masjid disana, hal itu sangat berbeda dengan ekspetasi yang saya kira bakalan sulit menemukan masjid. Karena setahu saya mayoritas masyarakat Lombok beragama Hindu, tetapi masyaAllah Islam disana tak kalah mendominasi. Bahkan masjidnya yang sungguh megah dan menakjubkan membuat saya terpesona akan keindahannya. Maka tak salah jika Pulau Lombok disebut sebagai Pulau Seribu Masjid.

Ada satu hal yang membuat saya takjub selama tinggal di Lombok, yakni toleransi antara umat Muslim dan Hindu terutama pada saat perayaan hari keagamaan Ramadhan ataupun Nyepi. Saling menghormati dan menghargai adalah kewajiban setiap umat bukan?

Menjalani Ramadhan pertama di Pulau Seribu Masjid bagi saya adalah pegalaman paling berkesan selama saya merantau. Sebagai seorang perantau yang tak ada kenalan ataupun keluarga sama sekali membuat saya lebih kuat mental dan mandiri untuk menjalani bulan suci tersebut sendiri tanpa keluarga.

Seperti hari-hari biasa saya melaksanakan kegiatan saya untuk bekerja di bandara Lombok yang berlokasi di Praya. Waktu itu saya tinggal di Kota Mataram sehingga saya harus menempuh kurang lebih 2 jam perjalanan pulang pergi menggunakan motor hampir setiap hari. Bosan? Iya. Pengen pulang? Iya banget. Tapi lagi-lagi Allah itu Maha Baik. Sebosan-bosannya saya tiap hari bolak-balik Mataram Praya, dan seberapapun besar rasa pengen pulang saya untuk menikmati Ramadhan bersama keluarga namun Allah menunjukkan kuasaNya. Lillahita’ala. Meniatkan setiap kegiatan yang saya lakukan hanya karenaNya adalah satu hal yang pada akhirnya membuat saya lebih tenang dan bersyukur bisa mendapatkan kesempatan ‘liburan’ di Pulau Seribu Masjid. Ada empat hal yang paling berkesan selama menjalani Ramadhan disana. Nano-nano. Ada menyenangkan yang membuat saya ingin menikmati kembali Ramadhan di Lombok begitu pula sebaliknya. Pun pada akhirnya semua hal berkesan itu semakin menguatkan pribadi saya disana.

Pesona alam di Lombok

Saya paling suka dengan perjalanan apalagi pakai motor (pesawat atau kapal). Karena dengan bebas saya dapat melihat betapa indah akan ciptaanNya. Kebetulan setiap hari saya pakai motor untuk bolak-balik bandara. Melewati Jalan Baru dan Jalan Bay Pass yang sepi dan dikelilingi sawah juga pemandangan Gunung Rinjani adalah panorama ang luar biasa bagi saya yang jarang sekali melihat pemandangan seperti itu. Pun dengan sunset dan sunrise yang tak pernah absen menemani 2 jam perjalanan saya.

Selama bulan Ramadhan saya meniatkan diri untuk berangkat lebih awal dari biasanya. Jam 06.00 WITA atau bahkan kurang dari jam 06.00 saya sudah siap berangkat. Atau lebih sering juga masih sedikit gelap sehingga saya harus menghidupkan lampu motor saya. Bukan, bukan karena bakal telat sampai kantor. Tapi, saya ingin lebih menikmati perjalanan sambil melihat indahnya sunrise di balik masjid sebelah utara Jalan Baru. Pada jam-jam tersebut matahari terlihat bulat dan tepat berada di setengah kubah yang memancarkan warna jingga hingga membentuk siluet kubah beserta menaranya. Andaikan pada jam tersebut bukan jam kerja mungkin memori hp saya sudah penuh dengan foto sunrise di balik masjid Jalan Baru itu.

Untuk dinas malam biasanya saya berangkat pukul 17.30 WITA. Selain untuk megejar waktu Shalat Maghrib dan berbuka puasa, pada jam tersebut juga bakal full panorama sunset dari Jalan Baru sampai Jalan Bay Pass. Ada dua sunset spot yang menurut saya bagus yakni di Tugu Gerung dan bukit belakang Rumah Makan Kampung Tenun Bay Pass. Di Tugu Gerung sunset masih terlihat berwarna jingga ditambah siluet Tugu Gerung yang mulai nampak. Pun dengan adanya lampu hias menjadikan Tugu Gerung terlihat lebih menawan. Berjalan ke sedikit ke arah timur. Disana akan dijumpai sebuah Rumah Makan Kampung Tenun yang di belakangnya terdapat sebuah bukit tempat dimana matahari bersembunyi. Langit mulai menampakkan gradasi jingga kemerah-kemerahannya disertai adzan maghrib menandakan telah waktunya berbuka puasa. MasyaAllah disanalah sunset terbaik yang pernah saya lihat.

Hasil gambar untuk sunset gerung lombok
Tugu Gerung

Semarak Ramadhan

Bicara mengenai semarak Ramadhan di Pulau Seribu Masjid adalah salah satu hal yang tak akan pernah luput dengan gema ayat suci Al Quran dan hiasan seribu lampion. Malam hari disana adalah waktu yang paling saya tunggu. Bagimana tidak, semarak Ramadhan sangat terasa di pulau kecil itu dan bahkan lebih meriah dari pada di kota saya sendiri Jogja maupun Jakarta yang notabennya merupakan kota besar.

Ketika senja mulai pudar, gema Al Quran dan adzan pun mulai bersahutan menghiasi malam Ramadhan di pulau itu. Dimanapun kaki melangkah, disana jua saya merasakan betapa dahsyatnya Ramadhan. Bagaimana tidak, selang lima atau enam rumah saya akan menemui masjid yang dihiasi senandung ayat-ayat suciNya. Hingga Arasy pun bergetar mendengarnya.

Hasil gambar untuk lampion mataram
Lampion di sepanjang jalan Mataram

Tentang seribu lampion, saya sangat terkesima dengan keunikannya. Bentuknya hingga lafadz Allah yang tertera disana. Begitu pun penempatannya yang hampir memenuhi setiap pinggiran jalan hingga membuat saya betah berlama-lama melewati jalan tersebut. Saya paling suka melewati Jalan Langko, Pejanggik, dan Catur Warga di Mataram hanya sekedar menikmati suasana malam Ramadhan dengan lampion-lampionnya.

Buka Puasa Bersama Komunitas

Bulan Ramadhan tanpa buka puasa bersama teman ataupun sahabat adalah satu hal yang kurang bagi saya. Maka dari itu sebisa mungkin saya akan selalu bergabung dengan beberapa teman untuk menikmati buka puasa bersama. Bukan tentang tempatnya namun dengan siapa itu hal yang lebih utama.

Selama Ramadhan di Lombok tahun lalu saya melaksanakan buka puasa bersama komunitas sahabat SST dan Kelas Inspirasi. Bisa berbuka puasa bersama mereka dan berdiskusi tentang impian serta target-target masa depan merupakan pengalaman yang paling berkesan. Ditambah dengan suasana pantai dengan deburan ombak dan sunset waktu itu membuat saya ingin mengulang hari itu lagi.

Waktu itu kami memutuskan untuk berbuka puasa di Pantai Nipah bersama SST dan di Pantai Gading bersama Kelas Inspirasi. Sebelum berbuka kami menghabiskan waktu untuk menyusuri pantai atau berfoto bersama. Sederhana memang acara buka puasa bersama yang kami lakukan. Cukup duduk di beruga ataupun menggelar tikar di tepi pantai dengan menu makanan ikan bakar disertai makanan khas Lombok, seperti plecing dan beberapa makanan yang entah apa namanya.

Hasil gambar untuk sunset pantai nipah lombok

Berbuka puasa sambil berdiskusi yang ditemani alunan ombak dan sunset adalah hal yang baru bagi saya. Hingga saya sangat menikmati masa-masa itu. Pun dengan acara setelahnya, beberapa teman memutuskan untuk pulang karena sudah larut malam namun ada juga yang tetap tinggal. Saya memilih opsi kedua, tinggal beberapa menit seraya duduk di pinggir pantai beralaskan pasir putih dan beratapkan taburan bintang untuk menikmati alunan ombak khas pantai barat Pulau Lombok. Hari itu adalah hari paling terkenang selama saya disana, pertama kali buka puasa di Pantai Pulau Seribu Masjid.

Sendu 1 Syawal

Menjalani tanggal 1 Syawal untuk menunaikan ibadah Idul Fitri dan malam takbir pertama di Pulau Seribu Masjid tanpa satupun keluarga bagi saya adalah hal yang belum pernah saya lakukan. Bagaimana tidak selama 21 tahun lamanya saya merayakan hari kemenangan itu bersama keluarga besar saya di Jawa. Kalau dibilang senang iya bersyukur alhamdulillah karena merupakan pengalaman pertama saya. Namun disisi lain ada rasa sedih juga merayakannya tanpa keluarga.

Malam itu ketika takbir mulai menggema saya berada di komplek seorang diri walaupun sebenarnya ada tetangga namun tidak merayakan 1 Syawal. Tetangga muslim memilih untuk menghabiskan cuti di kampung halaman hingga tersisa saya dan mb Anggi di Kompleks pun pada waktu itu beliau sedang ada dinas malam. Sendiri benar-benar sendiri waktu itu. Rasanya ingin sekali saya pulang ke Jogja dan merayakan 1 Syawal bersama keluarga besar. Namun nyatanya hal itu hanya menjadi angan belaka.

Hasil gambar untuk malam takbir mataram

Malam takbir itu akhirnya saya memutuskan untuk berkeliling Mataram menyaksikan semarak takbir keliling mulai dari Loang Baloq menuju Cakra Negara hingga berakhir di Islamic Center NTB. Subhanallah kemeriahan takbir keliling tersebut benar-benar membuat saya semakin jatuh hati dengan Lombok. Warna-warni lampion yang dibawa setiap peserta takbir keliling, kembang api yang saling bersahutan, serta gema takbir yang menghiasi langit malam Pulau kecil itu sedikit mengobati kerinduan akan kampung halaman. Sure I’m strong enough to face this time :’) Tak terasa waktu telah menunjukkan jam 23.00, saya pun bergegas balik ke rumah dinas untuk memersiapkan ibadah Idul Fitri esok harinya.

.

Diberi kesempatan melaksanakan bulan suci Ramadhan untuk pertama kalinya di Pulau Seribu Masjid merupakan satu hal yang paling berkesan selama kegiatan PKL. Menjadikan kegiatan saya lebih berwarna dan tidak monoton disana. Jika mungkin dan diizinkan olehNya rasanya ingin sekali saya mengulang bulan suci Ramadhan di Lombok. Namun untuk 1 syawal, seindah apapun perayaannya akan lebih indah dirayakan bersama keluarga tercinta di kampung halaman.

Pengalaman Ramadhan di Pulau Seribu Masjid ini memberikan hikmah yang luar biasa bagi saya. Bisa pulang bertemu keluarga tercinta serta merayakan Idul Fitri bersama mereka adalah nikmat yang tak pernah ada duanya. Setiap perjananan bolak-balik yang saya tempuh selama 2 jam juga memberikan banyak pelajaran bahwa jika kita lillah melakukan suatu hal maka insyaAllah akan lebih berkah bahkan ada banyak hal positif yang kita dapatkan disana. Pun dengan menambah teman lokal akan memberikan banyak pelajaran berharga yang tidak akan pernah kita dapatkan sebelumnya. Ucapan terimakasih saya haturkan kepada keluarga besar BMKG Meteorologi Bandara Internasional Lombok, SST NTB, Kelas Inspirasi, Laskar Baca, kelompok kajian Islamic Center NTB, dan seluruh pihak yang tak dapat saya sebutkan satu per satu yang telah menerima saya selama PKL di Lombok serta telah memberikan banyak ilmu dan pengalaman yang luar biasa. InsyaAllah semoga jika ada kesempatan ke Lombok bisa dipertemukan kembali.

.

Postingan ini diikutsertakan dalam blog contest yang diadakan oleh GenPI (Generasi Pesona Indonesia) Lombok Sumbawa

Lomba Blog Pesona Khazanah Ramadhan di Pulau Seribu Masjid

 

Advertisements

12 thoughts on “Pesona Ramadhan Pertama di Pulau Seribu Masjid”

  1. Waaahh, aku tidak menyangka bila pulau Lombok juga begitu antusias menyambut datangnya Ramadhan. Bahkan semarak ramadhan seakan lebih terasa di sana daripada di Jakarta. Indah sekali bagian lampion dengan lahfadz Allah di sepinggir jalan, membuatku merinding. Dan aku baru tau bahwa Lombok memiliki julukan pulau 1000 masjid. Jadi ingin mengunjungi pulau ini dan melihat keindahan masjidnya sekaligus mengunjungi pantai2 nya. Sudah cukup lama aku tidak bermain ke pantai. Semoga bila ada waktu dan kesempatan aku ingin mengunjungi pulau Lombok.

    1. Rarassss iya Ras Alhamdulillah, awalnya aku juga ga kepikiran klo ramadan di Lombok itu bakal terasa banget. Mungkin karena awalnya aku fikir disana mayoritas hindu jadi ngira juga bakal sebegitu syahdunya ramadan disana. Aamiin ya Rabb, iya insyaAllah semoga next time bisa maen ya ke Lombok, deket kok sama Bali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s