Coretan

Gerakan Pencerdasan Literasi Mahasiswi Indonesia || Dewi Nur Aisyah

Hasil gambar untuk literasi

(Postingan ini merupakan materi GDF online yang dilaksanakan pada hari Sabtu 1 Juli 2017 jam 19.00 WIB oleh BEM UPI. Supaya lebih bermanfaat, jadi saya share disini. Enjoy it)

Pemateri : Dewi Nur Aisyah

  • Penerima Beasiswa Presiden RI
  • PhD Student at University College London
  • Penulis Buku Awe Inspiring Me dan Salihah Mom Diary

Baik kalau begitu.

Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh dan selamat malam utk teman2 semua (jawab dlm hati aja ya). Alhamdulillaah.. senang bs silaturahim online disini 😊

Insya Allah hari ini sy akan sharing topik yg diminta oleh panitia

Tema yg diangkat kali ini adalah “Gerakan Melek Literasi untuk Wanita”

Mhn maaf sy request 5 menit utk buka line di laptop. Td sdh siap tp ga tahu knp error. Sdg sy restart laptopnya 🙏🏻

Mohon maaf, tulisan di atas sudah sy kirim di laptop menjawab sambutan Cici,tp baru terkirim skrg karena td sempat error. Alhamdulillaah sudah bisa dilanjut lagi utk materinya skrg yaa

Jadi Hari ini saya akan sharing sesuai dgn topik yg diminta oleh panitia, yaitu “Gerakan Melek Literasi untuk Wanita”. Paparan yg akan saya sampaikan sebatas dgn apa yg saya pahami dan ketahui. Semoga hal2 yg bermanfaat darinya bisa diambil ya.

Saya akan buka sharing qt kali ini dengan kalimat ini..

wp-1498964332204.

Sekarang, mari kita bahas apa itu literasi. Literasi mungkin telah menjadi istilah yang familiar bagi banyak orang. Namun tidak banyak dari mereka yang memahami makna dan definisinya secara jelas. Sebab memang Literasi merupakan sebuah konsep yang memiliki makna kompleks, dinamis, terus ditafsirkan dan didefinisikan dengan beragam cara dan sudut pandang. Saya akan coba paparkan beberapa definisi literasi yg berbeda-beda di lapangan.


Menurut kamus online Merriam-Webster, Literasi berasal dari istilah latin ‘literature’ dan bahasa inggris ‘letter’. Literasi merupakan kualitas atau kemampuan melek huruf/aksara yang di dalamnya meliputi kemampuan membaca dan menulis. Namun lebih dari itu, makna literasi juga mencakup melek visual yang artinya “kemampuan untuk mengenali dan memahami ide-ide yang disampaikan secara visual (adegan, video, gambar).”

National Institute for Literacy, mendefinisikan Literasi sebagai “kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat.” Definisi ini memaknai Literasi dari perspektif yang lebih kontekstual. Dari definisi ini terkandung makna bahwa definisi Literasi tergantung pada keterampilan yang dibutuhkan dalam lingkungan tertentu.

Education Development Center (EDC) menyatakan bahwa Literasi lebih dari sekedar kemampuan baca tulis. Namun lebih dari itu, Literasi adalah kemampuan individu untuk menggunakan segenap potensi dan skill yang dimiliki dalam hidupnya. Dengan pemahaman bahwa literasi mencakup kemampuan membaca kata dan membaca dunia.
Menurut UNESCO, pemahaman orang tentang makna literasi sangat dipengaruhi oleh penelitian akademik, institusi, konteks nasional, nilai-nilai budaya, dan juga pengalaman. Pemahaman yang paling umum dari literasi adalah seperangkat keterampilan nyata – khususnya keterampilan kognitif membaca dan menulis – yang terlepas dari konteks di mana keterampilan itu diperoleh dan dari siapa memperolehnya.
Jadi kalau ditanya apakah arti literasi, jawabannya akan bisa beragam
Tapi yg pasti, seperti diungkapkan oleh UNESCO, bahwa kemampuan literasi merupakan hak setiap orang dan merupakan dasar untuk belajar sepanjang hayat. Kemampuan literasi dapat memberdayakan dan meningkatkan kualitas individu, keluarga, masyarakat. Karena sifatnya yang “multiple effect” atau dapat memberikan efek untuk ranah yang sangat luas, kemampuan literasi membantu memberantas kemiskinan, mengurangi angka kematian anak, pertumbuhan penduduk, dan menjamin pembangunan berkelanjutan, dan terwujudnya perdamaian. Buta huruf, bagaimanapun, adalah hambatan untuk kualitas hidup yang lebih baik.
Lalu sekarang pertanyaannya, posisi Indonesia dimana terkait dengan angka literasinya?
Saya teringat sebuah laporan yang dirilis resmi oleh The World’s Most Literate Nations (WMLN) pada bulan Maret tahun 2016 lalu. Hasil laporannya cukup mengejutkan. Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara jika dilihat dari minat membacanya. Itu artinya Indonesia berada pada peringkat paliiing bawah dalam hal minat membaca. Kalau kita bandingkan dengan Amerika yang rata-rata warganya (usia >18 tahun) biasa membaca 11-20 buku dalam setahun atau Jepang yang hampir seluruh warganya (usia >15 tahun) melek huruf, bagaimana dengan negara kita tercinta?


Ini adalah fakta yg harus qt pahami. Bahwa qt yg diberi kesempatan kuliah, merupakan bagian dari 11% dari warga Indonesia yg bisa melanjutkan studi ke jenjang yg lebih tinggi


Lihat juga angka pengangguran terbuka negara qt. Jumlahnya mencapai 7 juta jiwa. Ini belum termasuk mereka yg bekerja part time atau kurang dari 35 jam seminggu.


Data yang dihimpun oleh Litbang Kompas juga sangat memprihatinkan. Minat baca masyarakat Indonesia baru sebesar 0.001 persen dan rata-rata masyarakat Indonesia hanya membaca 27 halaman buku dalam setahun.

Angka literasi ini tentu sangat erat dengan angka buta huruf di Indonesia.

Berdasarkan data Pusat Data dan Statistik Kemendikbud tahun 2015, angka buta huruf di Indonesia masih tinggi yang jumlahnya mencapai 5.984.075 orang. Ini tersebar di enam provinsi meliputi Jawa Timur 1.258.184 orang, Jawa Tengah 943.683 orang, Jawa Barat 604.683 orang, Papua 584.441 orang, Sulawesi Selatan 375.221 orang, Nusa Tenggara Barat 315.258 orang.

Sedangkan secara persentase, Papua menduduki angka tertinggi. Demikian pula Nusa Tenggara. Sedangkan persentase buta huruf terendah dipegang oleh DKI Jakarta.

Secara keseluruhan, Indonesia memiliki persentase buta huruf sebesar 4,78 persen untuk usia 15 tahun ke atas, 1,10 persen untuk usia 14-44 tahun dan 11,89 persen untuk usia 45 tahun ke atas. Perolehan tersebut berdasarkan data terakhir mengenai persentase buta huruf tahun 2015 yang diselenggarakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
Kita sudah melihat ketimpangan yg ada antara angka literasi Indonesia dgn negara lainnya.

Sekarang kembali kpd laporan The World’s Most Literate Nations (WMLN). Saya baca lagi report itu. Ingin mencari tahu negara mana sih yang dinobatkan sebagai negara yang paling bagus minat baca dan angka literasinya. Bisa menebak kah?? Ternyata, peringkat 5 besar diduduki oleh negara Skandinavia, mulai dari Findlandia, Norwegia, Islandia, Swedia, dan Denmark. Swiss berada pada peringkat 6, USA 7, Kanada 11, Perancis 12, dan UK berada pada peringkat 17.


Saya jadi ingin mengambil nilai dari negara-negara maju ini. Bahwa ternyata membaca itu bukan karena ada perlu, tapi memang sebuah keperluan yang menjadi bagian dari keseharian selalu. Membuat hari tak sekedar berlalu, tapi juga mendapat “asupan” yang bermutu. Saya jadi ingat supervisor saya, selain beliau adalah tipikal orang yang selalu memilih naik tangga ke lantai 4 atau berjalan 20 menit menuju kampus, beliau juga tipikal orang yang tahu setiap update ilmu pengetahuan di bidangnya. Beliau subscribe jurnal-jurnal atau sumber bacaan bermutu. Iya ya, orang yang bermanfaat itu akan selalu bermula dari seberapa banyak bacaan yang diserapnya seiring waktu.

Kembali ke topik, saya mencoba mencari apa sih yang membuat negara-negara Skandinavia itu begitu tinggi angka literasinya. Ternyata, faktor pertama adalah karena budaya membaca yang diwariskan secara turun-temurun. Contoh paling sederhana, budaya membaca di keluarga atau menceritakan dongeng kepada anak sebelum tidur. Atau membiasakan cara mengisi waktu luang ya dengan memberikan buku bacaan. Maka tak heran kalau saya lihat anak yang tumbuh besar disini, sembari ibu bapaknya mengaji, sang anak juga asik membaca buku sendiri. Maka ini menjadi PR bersama untuk para orang tua, karena kebiasaan anak itu bermula dari didikan di rumahnya. Buatlah mereka mencintai buku dan ilmu, niscaya banyak kebermanfaatan dan kebaikan yang dapat diukirnya selalu. Ini jugalah yg menyebabkan peran wanita besar kpd tumbuh kembang dan kecerdasan literasi anak2nya.

Saya beruntung memiliki orang tua yang meskipun hanya lulusan pendidikan rendah (menyelesaikan program sekolah wajib pun tidak), ayah saya sangat mencintai buku. Sedari kecil saya terbiasa melihat lemari di ruang tengah penuh dengan buku-buku. Saya hanya ingin mengatakan, siapapun dirimu, jika memang kita mencintai ilmu, niscaya nilai itu yang akan kita tanamkan kepada anak-anak kita selalu. Meski di tengah keterbatasan, atau tidak dalam kondisi yang ideal. Karena akhlaq itu adalah sesuatu yang kita tanam, dan semua bermula dari pengajaran…

Saya juga melihat budaya serupa di Inggris. Contoh kecil seperti “reading day” yang diadakan sekolah setiap minggunya. Atau pojok buku yang selalu tersedia di children center dan sekolah, dengan rak-rak buku besar yang berisi bacaan-bacaan bermutu. Atau di perpustakaan, selalu ada hari mendongeng, gratis untuk anak-anak! Hal-hal inilah yang membuat membaca menjadi sebuah kebiasaan, bahkan kebutuhan. Seperti apa yang dikatakan oleh Maya Angelou, “Any books that help a child to form a habit of reading, to make reading one of his deep and continuing needs, is good for him”

Faktor penunjang selanjutnya adalah… PERPUSTAKAAN. Untuk meningkatkan minat baca, perpustakaan tentu berperan penting sebagai sarana utama. Iya, bahkan bisa dibilang perpustakaan itu layaknya surga buku-buku. Di Inggris sendiri, perpustakaan itu bueesaaar sekali, dan tertata dengan sangat rapi. Koleksinya pun beragam dan mencakup hampir seluruh ilmu pengetahuan.Saya akan sedikit bahas perspektif literasi ini dari kaca mata Islam. Islam sendiri pun memposisikan ilmu sebagai sesuatu yang besar.

Sekarang saya akan bahas sedikit posisi keilmuan itu dari perspektif Islam


Hingga Allah berfirman tidak mungkin sama antara orang2 yg memiliki ilmu dengan yg tidak…


Hingga ia masuk ke dalam salah satu iri yang diperbolehkan…


Dan ini adalah beberapa keutamaan orang2 yg berilmu…


Oke, sekarang qt masuk ke pembahasan selanjutnya. Lalu jika di atas sudah dibahas apa yg membuat perbedaan antara Indonesia dgn negara lainnya, dimana kah peran wanita terhadap literasi ini?


Bisa dibilang, di tangan para ibulah, letak peradaban generasi itu berada. Entah pengajaran yang baik, atau yg buruknya…

Maka wajar jika presiden dari Universitas Harvard mengatakan, mendidik wanita adalah sesuatu yang cerdas. Karena di tangan wanitalah perubahan itu dimulai…


Bisa jadi dulu, kita baru pertama kali bertemu dengan orang yg lulus S2 atau S3 saat di perguruan tinggi, yaitu saat melihat dan bertemu dengan dosen2 pengajar. Bukankah akan lebih baik jika anak yg lahir dari kita, saat membuka matanya, ia sudah lebih dahulu bertemu dgn orang berpendidikan tinggi sedari kelahirannya?

Sang ibulah yang menghabiskan waktu lebih banyak dgn anak-anaknya. Mendidiknya dengan cinta, menemani tumbuh kembangnya. Maka mau menjadi ibu bekerja atau ibu rumah tangga, memiliki pendidikan tinggi tetaplah harus qt punya. Karena dari Rahim kitalah, lahir anak2 yg akan mengubah dunia…

Lalu bagaimanakah antara wanita dan pendidikan?



Maka itu jawaban saya, ingat dan percayalah, bahwa peranmu menjadi istri dan ibu, dengan peranmu membangun masyarakat di sekitarmu, bukanlah hal yg saling bertentangan, namun kehadirannya saling menguatkan…

Saya juga diminta panitia utk sharing pengalaman sy terkait hal ini. Maka di kesempatan ini, saya akan sharing pengalaman saya yang hingga saat ini masih menjadi student mom. Saya ingin sekali membuktikan, bahwa menjadi wanita, menjadi istri dan seorang ibu adalah hal yg tidak menghalangimu utk meraih cita dan bermanfaat utk sesama…


Foto di atas adalah saat saya sekolah S2 di Imperial College London. Menjadi salah satu yg terpilih dari 25 mahasiswanya. Sedangkap acceptance rate ICL saat itu hanya 5%. Itu artinya dari 100 orang pendaftar, hanya ada 5 yg diterima. Iya, Allah berikan saya rezeki untuk S2 di saat status sudah menjadi istri. Hingga saat saya sidang, saya sedang hamil 5 bulan.


Perjalanan saya utk membangun generasi tidak berhenti disini. 2 tahun setelah saya menyelesaikan studi S2 pun masa yg sama membesarkan si kecil, saya mendapat rezeki untuk S3 dengan berbekal beasiswa presiden republic Indonesia. Merasa bahagia menjadi salah satu dari 109 awardee yg terpilih…


Saya pun memulai babak baru S3 ditemani suami dan anak yg usianya 2 tahun di University College London. Dan hingga saat ini, masih menjalani peran sebagai seorang mahasiswa, istri dan ibu dari satu orang anak…

Di tengah padatnya jadwal menjadi student mom, saya pun ingin membuktikan bahwa saya ttp bs berkarya dan tidak kalah dgn single2 lainnya 😀


Saya pun masih bisa mengukir prestasi. Foto di atas adalah saat putri saya masih berusia 1 tahun dan mengikuti perjalanan konferensi saya ke Vietnam. Dan saya mendapat perghargaan sbg presenter terbaik di konferensi ini…


Saat saya menjadi mahasiswa S3, tim kami pun terpilih menjadi juara nasional dengan membawakan inovasi alat kesehatan utk menanggulangi permasalahan tuberkulosis di Indonesia


Hingga akhirnya project inovasi kami ini mendapat perhatian dan mendapatkan grant utk mengembangkan alat deteksi otomatis TB


Saya tidak ingin berhenti disitu, maka terkait dgn project PhD saya. Penelitian saya mendapatkan skor penelitian terbaik di wilayah Eropa. Hingga saya berangkat konferensi selalu diberikan beasiswa oleh panitianya…


Dan di atas adalah saat sy mendapatkan penghargaan Young Investogator award utk penelitian hepatitis C di wilayah Asia Pasifik


Maka saya hanya ingin mengatakan, bahwa menjadi ibu tidak pernah menghalangimu. Justru di telapak tanganmu, letak membangun peradaban generasi itu bertumpu…

Kalau ada yg bertanya (dan ini sering sekali ditanyakan, bahkan oleh teman2 diluar Indonesia), mungkin dibawah ini jawabannya


Maka jangan pernah padamkan mimpimu. Jika ada yg tidak berjalan sesuai dgn rencanamu, evaluasi kembali apa yg kurang dari usahamu.


Dan senantiasa optimislah, meskipun dalam perjalanannya kamu akan sering mendengar komentar yg tidak enak terdengar di telinga. Saya pun terkadang mendapat pertanyaan, “Ga capek apa sekolah mulu?”. Hehe.. tak perlu risau dgn kalimat2 itu. Teruslah berkarya menjawab celotehan itu. Hingga akhirnya qt mampu buktikan utk menjadi wanita yg membangun peradaban bangsa…


Dan sebagai epilog…


Sekian sharing yg bisa saya sampaikan hari ini. Semoga apa2 yg disampaikan bisa bermanfaat. Semoga kita yg hadir hari ini, dapat menjadi ibu-ibu yg membangun generasi, membawa perubahan berarti utk negeri ini…

Saya kembalikan lg kpd moderator 🙂

PERTANYAAN

1. Fitrya intan – PGSD Bumsil

Sejak kapan teh dewi jadi penggiat atau peduli literasi? Dan kenapa?

Salam kenal Fitrya 🙂

Saya tidak bisa (atau belum bisa lebih tepatnya) memanggil diri sy sbg penggiat literasi. Kalau kepedulian tentu memang ada. Tapi belum real membangun program/kegiatan kesana. Masih jauh perjalanan saya, apalah saya, masih di anak tangga terbawah utk bs banyak bicara.

Yang sedang sy lakukan skrg adalah menjadi contoh utk para wanita Indonesia. Membuktikan bahwa menjadi istri dan ibu tidak pernah menghalangi qt. Karena sy ingin, kebaikan lebih banyak dicipta oleh para wanita. Hingga akhirnya di tangan mereka lah perbaikan bangsa menjadi nyata…

2. Himatul zulfa – universitas telkom bandung

Saya mau bertanya terkait quotes diatas, apakah menjadi sosok luar biasa itu sebuah pilihan?

Jika memang iya, apa yang harus dipertimbangkan dan dipersiapkan agar menjadi sosok yg luar biasa

Pertannyaan ke dua

-> tolong paparkan bagaimana tips bisa jadi orang yg sesukses beliau, selain membaca, apa yg harus diusahakan lagi

Pertannyaan ke tiga

-> apa motivasi beliau, serta bagaimana semangat beliau selalu tidak pernah surut bahkan sampai sering di undah dan dapat the best

Terimakasih


Salam kenal Himatul Zulfa 🙂

1) Menurut saya pribadi, menjadi luar biasa itu memanglah pilihan, dengan alternatif pilihan lainnya adalah menjadi yg biasa2 aja. Apa maksudnya? Ada pilihan tidur 8 jam ada jg yg memilih tidur 5 jam dgn 3 jam nya mengejar prestasi dgn menulis karya ilmiah. Maka memilih brp lama waktu tidur, mau apa waktunya dihabiskan, itulah yg akan menentukan pilihan qt. Akan menjadi wanita yg biasa2 saja atau luar biasa. Tentu tdk bs disamakan mereka yg bekerja 10 jam dalam seharinya dgn orang yg hanya bekerja hanya 5 jam. Maka itu semua adalah pilihan.

2) Menjadi orang yg berhasil tentu ada banyak tipsnya. Dan sebenarnya semuanya sudah coba saya tuliskan dgn detail di buku yg saya tulis “Awe-Inspiring ME”. Disitu saya berbagi tips di awal2 menyibukkan diri utk menjadi wanita yg berprestasi. Mulai dari mengatur rencana, fokus, tawazun, menyibukkan diri dgn hal2 yg positif, menghadapi kegagalan, dan terus bergerak utk mencapai keberhasilan.

3) Motivasi saya hanya 1, untuk mendapatkan keridhoaan Allah dan surga-Nya. Itu saja. Maka saya ingin membuktikan dengan mencapai banyak kebaikan dan melakukan perbaikan. Hingga saya akan menjadi salah satu yg spesial di hadapan Allah. Bukankah bukan hanya qt yg ingin mendapatkan cinta-Nya? Maka saya harus berusaha sebaik yg saya bisa utk menjadi yg terbaik di hadapan-Nya…

3. Lia Waliyaturohman_UIN SGD Bandung

mengenai peran wanita dalam membangun peradaban seperti yang telah mbak dewi tadi paparkan, apakah semangat atau keberhasilan yang selama ini di raih itu banyak mendapatkan hambatan atau tantangan? dan bagaimana cara mengahadapi tantangan tersebut. pernahkan mbak dewi putus asa? dan bagaimana caranya mempush kembali semangat untuk meraih impian tersebut disaat kemustahilanlah yang ada didepan mata

Salam kenal Lia 🙂

Hehe.. semua orang pasti pernah mendapat tantangan dan hambatan, saya pun sama. Bisa jadi lebih berat dibanding yg lainnya. Apa yg dilakukan saat mendapat tantangan/hambatan? Saya tdk akan menyerah atau berputus asa hingga titik akhir keputusan-Nya, kisah S2 saya membuktikan kebenarannya. Selalu husnudzan dgn apa yg menimpa qt. Dan percaya, bahwa Allah tidak pernah memberikan ujian lebih berat dari kemampuan hamba-hamba Nya..

Mungkin bisa jg dibaca tulisan saya yg ini:

https://dewinaisyah.wordpress.com/2017/04/21/we-are-strong-for-a-reason/

4. Kak, saya Hana Mumtazia Nurhaq, dari Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UPI 2015, ingin bertanya

Menurut saya, banyak anak2 skrg yang sudah literat, hanya saja memang lebih banyak anak yang aliterat (bisa membaca, namun tidak membudayakan). Pun sama, anak yang iliterat (tdk bisa membaca) mungkin lebih banyak.

Saat ini saya kira sebenarnya di Indonesia sudah mulai digagas kembali pentingnya budaya literasi. Contohnya dgn adanya angkot pintar, gerakan literasi sekolah (membaca sebelum kegiatan belajar mengajar di sekolah dimulai), dan lain sebagainya.

Saya kira, sudah banyak yang diupayakan baik oleh pemerintah maupun masyarakat yg sudah literat. Namun sayang, dalam pelaksanannya kurang maksimal, sebab penerimaan masyarakat thdp budaya literasi bisa dibilang rendah.

Pertanyaannya, jika dalam pemaparan tadi Kak Dewi menekankan bahwa keluargalah yang jadi poin utama utk menanamkan budaya literasi, maka adakah tips bagi mahasiswa agar bisa menanamkan budaya itu pada lingkungan sekitar yang –bisa dibilang– semangat berubahnya rendah dan tidak mendapatkan budaya literasi dari keluarganya?

Terima kasih, Kak 🙂

Salam kenal Hana 🙂

Saya setuju terkait dgn banyaknya usaha utk menumbuhkan minat baca di tengah2 masyarakat. Itulah mengapa, diluar usaha yg sudah dirintis, pun qt yg mencoba menjadikan membaca menjadi budaya, calon2 ibu di grup inilah yg harapannya akan menerapkan budaya membaca, minimal kpd keluarganya dan anak2nya. Mindset dan membentuk budaya positif itu PR besar bagi bangsa qt. Tidak hanya perihal membaca, banyak hal lain yg perlu diperbaiki juga. Maka saya hanya bs bilang, semua harus dimulai dari diri qt sendiri, mulai dari saat ini juga. Kalau generasi di atas qt kurang baik budayanya, qt mulai bangun dr diri qt sendiri.

Bisa juga dibaca tulisan refleksi saya yg ini:

https://dewinaisyah.wordpress.com/2016/12/22/jadi-siapa-yang-lebih-islami-sebuah-refleksi-diri/

Baik mba mungkin ini pertanyaan terakhir, saya coba ringkas dari beberapa pertanyaan yang masuk

1. Bagaimana cara mba Dewi membagi waktu dengan segala kesibukan mengurus keluarga, akademik, dan juga ruhiyah tentunya, kabiasaan apa saja yang mba dewi lakulan setiap harinya ?

2. Bagaimana cara memotivasi diri untuk senang membaca, bahkan bacaan yg ‘bermanfaat’ kadang kita hanya keenakan pada buku kuliah atau bacaan seperti novel atau dongeng fiksi. Kemudian bagaimana cara tetap konsisten dengan membaca ?

1) Hmm.. perihal membagi waktu ya?

Waktu saya sama dgn yang lain, 1 hari itu 24 jam. Ada 1 rumus yg tidak ada dalam matematika manusia, yaitu “barokah”, maka ini yg qt kejar dlm setiap aktivitas yg dilakukan. Apa itu barokah? Barokah itu, dalam waktu sedikit bisa mengerjakan targetan yg banyak. Sebaliknya, yg tidak barokah bisa jadi mengerjakan suatu hal tapi butuh waktu yg panjang dr biasanya. Maka biasakanlah utk meluruskan niat dlm setiap aktivitas yg qt lakukan, sehingga jika Allah senantiasa bersama qt, semua yg qt kerjakan akan Ia mudahkan…

Mengenai kebiasaan, semoga bisa tergambar dari tulisan ini ya, lebih kpd bagaimana sy mengatur waktu sbg student mom:

https://dewinaisyah.wordpress.com/2015/04/18/a-student-mom-tips-tricks/

Dan ini:

https://dewinaisyah.wordpress.com/2017/05/13/balada-phd-parents-curhatan-emak-yang-masih-sekolah/

2) Motivasi membaca:

Saya selalu berusaha menjadikan membaca bukan hanya sekedar ketika perlu aja (contoh saat ngerjain tugas atau skripsi, siapa hayooo yang kaya gini :D), tapi menjadikannya sebagai sebuah BUDAYA. Kalau baca timeline FB atau IG aja bisa menghabiskan waktu lama, mengapa tidak sisihkan waktu kita untuk  membaca bacaan bermanfaat untuk dunia dan akhirat kita. Motivasi utama yaitu, agar mencintai membaca karena-Nya. Karena tak mungkin kita bisa berbagi jika kita tidak memiliki isi. Tidak mungkin bisa memberi jika tidak mengetahui. Mengingatkan diri bahwa jika kita ingin menjadi orang yang banyak memberi manfaat kepada sesama, semua bermula dari membaca…

Maka seperti apa y dikatakan oleh Terry Pratchett,

“You have to have really wide reading habits and pay attention to the news and just everything that’s going on in the world: you need to. If you get this right, then the writing is a piece of cake.”

Bagaimana mungkin bisa menulis kalau qt tidak membaca. Bagaimana mungkin qt bs bermanfaat utk sesama jika qt tdk memiliki ilmunya…

Mungkin itu rangkuman motivasi saya utk ttp bs konsisten membaca dan menjadikannya budaya…

.

Saya hanya ingin mengingatkan, bahwa peran wanita untuk membangun peradaban bangsa begitu besar adanya. Maka maksimalkan potensi qt dgn menjadi wanita yg memiliki literasi yg baik dan bs memberikan manfaat utk sesama. Niscaya jika qt percaya bahwa qt bisa, akan ada banyak kemudahan yg mengiringi perjalanannya… 🙂

Terakhir, mohon maaf jika ada kekurangan dalam menyampaikan. Semoga sharing yg diberikan bs bermanfaat ya..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s