PBS2 | Persiapan Mengejar Beasiswa

Scholarship Talk oleh PBS2. Minggu 16 Desember 2018

Pemateri : Dian Rahmawati

Awardee LPDP Monash University, Australia

Sebelumnya perkenalkan, saya Dian. Awardee LPDP tahun 2016. Tahun ini (bulan juli lalu) saya baru saja menyelesaikan studi magister saya di Monash University Australia. Jurusan yang saya ambil adalah Master of Education dengan spesialisasi Leadership and Policy

Tema yang akan saya share hari ini adalah First Thing First: Persiapan mengejar beasiswa.

Sebenernya, dipilihnya tema ini dilatarbelakangi oleh masih banyaknya teman-teman yang bertanya tentang bagaimana proses saya untuk mendapatkan beasiswa. Jadi lewat materi ini, saya akan sedikit banyak bercerita mengenai proses saya mempersiapkan diri untuk memburu beasiswa itu. Langsung dimulai aja ya

Banyak banget yang tanya ke saya, “Kak kok bisa dapet beasiswa sih? gimana caranya?” Sebenernya kalau mau dijawab enteng, bisa aja dijawab “ya daftar aja”. Tapi prosesnya ternyata tidak semudah itu hehe. Ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan

1. Niat

Ini merupakan langkah pertama dalam mengejar beasiswa. tidak hanya niat, kita juga perlu meneguhkan niat kita itu sendiri untuk mengejar beasiswa. Niat itu penting karena ada kaitannya dengan ikhtiar atau usaha kita dalam mengejar beasiswa itu sendiri. Dari pengalaman yang sudah-sudah, biasanya, kalau niatnya belum kukuh, usahanya juga tidak akan maksimal. Selain itu, tidak jarang banyak rintangan yang membuat semangat kita untuk melanjutkan sekolah itu kendor. Kalau niat kita kuat, insya allah, semangat dan usahanya juga ngga akan kendor

2. Bidik kampus dan beasiswanya

Niat itu belum cukup teman-teman. Setelah niat, kita perlu usaha juga. langkah selanjutnya adalah dengan membidik kampus dan beasiswa yang teman-teman minati. Teman-teman bisa menentukan kampus yang ditargetkan lebih dulu, baru mencari beasiswanya. Atau kalian juga bisa mencari-cari beasiswanya lalu menentukan kampusnya.

Ada banyak faktor yang perlu dipertimbangka ketika menentukan kampus yang ditargetkan. Seperti apakah universitas tersebut memiliki jurusan yang kalian minati, apakah ada professor di bidang yang kalian minati di kampus itu, ranking jurusan itu (bisa refer ke ranking QS atau times higher education), ini bisa disesuaikan dengan minat dan kebutuhan teman-teman. Itulah mengapa, sebelum teman-teman mengejar beasiswa, baiknya teman-teman sudah paham apa minat teman-teman sekalian.

lalu setelahnya mencari beasiswa. Beasiswa ini banyak sekali jenisnya. Ada beasiswa yang disediakan pemerintah Indonesia seperti LPDP atau beasiswa 5000 doktor oleh Kementrian Agama (Khusus untuk jenjang doktoral). Selain itu, beberapa negara tujuan studi juga menyediakan beasiswa dari pemerintah mereka sendiri, seperti Fulbright (Amerika), Chevening (Inggris), Monbukagakusho (Jepang), KGSP (Korea Selatan), Australian Award Scholarship (Australia) dan masih banyak lagi. Selain beasiswa dari pemerintah, ada juga beasiswa yang diberikan oleh kampus itu sendiri, atau institusi atau Non-Government Organization (NGO). Yang harus diperhatikan saat mencari beasiswa adalah persyaratan dan “benefit” yang mereka berikan. Ada full-scholarship (meng-cover biaya sekolah dan biaya hidup selama studi) ada juga partial scholarship (hanya meng-cover biaya sekolah, sementara biaya hidup ditanggung penerima beasiswa).

3. Check the requirements

Setelah menetapkan kampus dan beasiswa yang ingin dituju, selanjutnya adalah memperhatikan dengan seksama persyaratan yang mereka minta. Untuk S2, umumnya mereka akan meminta ijazah dan transkrip S1, nilai bahasa (TOEFL atau IELTS), surat rekomendasi dan lain-lain. beberapa beasiswa juga meminta persyaratan yang berbeda dengan beasiswa lainnya, misalnya salah satu persyaratan beasiswa Chevening adalah sudah pernah bekerja dengan minimal jam kerja tertentu.

Berdasarkan pengalaman saya, dari segala persiapan beasiswa ini, yang paling memakan waktu adalah untuk mendapatkan nilai bahasa yang diminta. Ini harus disiapkan dengan matang. mulai dari persiapannya (belajar bahasa/tesnya itu sendiri), persiapan tesnya, sampai dengan menunggu hasilnya (karena hasilnya biasanya tidak bisa langsung keluar, harus menunggu 10 hari hingga 1 bulan).

Selain memakan waktu, belajar bahasa ini merupakan persyaratan yang paling memakan tenaga dan dana. Oleh sebabnya harus dari jauh-jauh hari sekali intip persyaratan ke kampusnya dan beasiswanya untuk standar skor yang mereka tentukan. Tidak sedikit juga teman-teman saya yang keren secara akademik dan juga memiliki pengalaman kerja maupun organisasi yang bagus, terhalang di nilai bahasanya sehingga belum berkesempatan menadapatkan beasiswa. Oleh karenanya khusus persyaratan ini harus disiapkan dengan matang dan dari jauh-jauh hari.

4. Buat Timeline

Sambil menyiapkan requirement yang diminta, kita buat juga timeline untuk mempersiapkan hal-hal itu. yang pertama perlu diperhatikan adalah kapan pendaftaran beasiswa dibuka atau ditutup sehingga kita bisa menyiapkan kapan mulai “mengumpulkan” persyaratan yang diminta. Misal kita bisa mulai belajar IELTS atau TOEFL dan ambil tesnya, Kapan meminta surat rekomendasi dari dosen, atau kapan mulai daftar ke kampus. usahakan kita tidak menyiapkan persyaratannya secara mendadak, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Misal saja kita tidak mengejar-ngejar dosen kita untuk meminta surat rekomendasi karena mereka butuh waktu juga untuk menyiapkan itu. dengan begitu kalian bisa menyiapkan persyaratannya dengan sebaik mungkin.

5. Daftarkan dirimu

Satu hal yang aku pelajari saat apply beasiswa adalah: daftarlah beasiswa saat persyaratan sudah lengkap, bukan saat kamu sudah siap. kenapa gitu? karena kalau kalian berusaha memantapkan hati kalian buat daftar beasiswa saat kalian udah siap, ya kalian akan terus merasa diri kalian kurang dan ngga siap-siap, akhirnya di entar-entar deh. trus lama-lama ngga jadi deh hehe (berdasarkan pengalaman orang terdekatku). Oleh karenanya, begitu persyaratan daftar ke kampus atau beasiswanya sudah siap, langsung daftar, jangan tunggu ntar-ntar. Karena siapa yang tau kalau tahun depan beasiswa itu masih ada, atau kalau persyaratan dan proses seleksi di beasiswa itu malah semakin sulit atau kuotanya dikurangi. Contohnya saja beasiswa S2 dari Kementrian Agama yang sekarang sudah ngga ada (sekarang hanya untuk jenjang doktoral), atau proses seleksi LPDP yang berubah dari sebelumnya dan juga pembukaannya yang hanya 2 kali dalam setahun dari yang sebelumnya 4 kali. Kan sayang sekali melewatkan kesempatan-kesempatan emas itu

ada sedikit cerita tentang pengalaman saya memburu beasiswa dulu ya. Dulu sebelum apply LPDP, saya pernah apply 2 beasiswa yang lain: Fulbright dan AAS. Waktu itu saya kelar sidang skripsi sekitar bulan maret. Lalu dengan nekatnya saya apply beasiswa Fulbright yang penutupannya itu bulan April. Saya terburu-buru menyiapkan persyaratan yang diminta termasuk surat rekomendasi dan motivation letter. Alhasil motivation letter saya ngga mendalam dan saya juga dapet omel dari dosen sayan hehe karena saya meminta beliau untuk menuliskan surat rekomendasi dalam waktu singkat. Tapi saya tetep kekeh untuk daftar waktu itu. Hasilnya bisa ditebak, beberapa minggu kemudian saya dapat email yang menyatakan bahwa saya belum berhasil ke tahap selanjutnya.

setelah Fulbright, saya juga mencoba AAS. namun saya juga gagal. dan setelah saya analisa lagi, mungkin kekurangan saya adalah di kurang mendalamnya analisa saya saat menjelaskan kenapa saya harus masuk ke kampus yang saya tuju

ada beberapa hal yang saya dapatkan lketika apply beasiswa:

  1. kenali apa yang kamu mau atau minati. penyedia beasiswa dan interviewer itu selalu mau tau, “dari banyak universitas dan program studi di dunia ini, kenapa kamu harus diterima di kampus dan jurusan itu?”. itulah mengapa kamu harus melakukan riset mendalam untuk jurusan dan kampus yang kalian minati. kalau kamu sudah melakukan riset, mereka akan teryakinkan bahwa kamu ini seseorang yang well-plan dan tau arah tujuan. ini bisa dilakukan dengan banyak hal: kunjungi situs kampusnya, datang ke edu expo, kontak mahasiswa indo yang ada disitu (kalau ada), tanya-tanya professor atau staff kampus (mereka welcome banget dengan mahasiswa internasional, jadi jangan takut untuk hubungi mereka). FYI, ketika mau daftar LPDP, saya butuh waktu 1 bulan untuk menulis essay yang diminta LPDP
  2. berkumpul dengan teman yang mempunyai tujuan yang sama akan membantu kamu tetap bersemangat meraih tujuan itu. Ketika saya mengejar beasiswa ini, saya juga dikelilingi teman-teman yang bermimpi hal yang sama: Sekolah diluar negeri tapi dibayarin (alias gratis hehe). Teman-teman inilah yang menyemangati ketika semangat kendor karena aplikasi ditolak terus atau lelah belajar TOEFL. Karena ada teman seperjuangan, kita jadi lebih semangat lagi. Dan kalian beruntung karena sudah mempunyai teman seperjuangan dengan menjadi bagian PBS2 ini.
  3. jangan patah semangat kalau gagal saat seleksi beasiswa. Kegagalan itu justru bisa menjadi lahan kamu untuk refleksi dan evaluasi diri “apa yang salah dengan aplikasi saya? apa yang harus diperbaiki?”Tapi sayangnya banyak orang itu takut akan kegagalan. Menyiasatinya dengan mempersiapkan diri sebaik mungkin. Saat hendak menyiapkan persyaratan atau essay beasiswa, jangan takut atau malu untuk bertanya dengan orang yang lebih berpengalaman dari kalian. Atau minta teman, keluarga, dosen untuk membaca tulisan kalian. Minta masukkan dari mereka apa yang kurang dan perlu diperbaiki.

Pertanyaan pertama

  1. Apa2 saja yang harus kami persiapkan untuk menunjang nilai akademis?
  2. Organisasi apa saja yg sebaiknya di ikuti ketika kuliah agar bisa menunjang karier s2?
  3. Apakah bisa hanya dengan nilai akademik yg tinggi namun tidak memiliki pengalaman non akademik bisa mendapatkan beasiswa luar negeri?
  4. Pas kita apply beasiswa itu biasanya kita harus memiliki jiwa kepemimpinan apakah maksudnya kita harus memiliki peranan penting dlm sebuah organinsai? Bagaimana jika kita tidak mengikuti organisasu ketika kuliah apakah bisa?
  1. saya rasa sungguh-sungguh merupakan kuncinya. Kalau prinsipnya saya itu, ketika mengerjakan sesuatu ngga boleh setengah-setengah. Melakukan apapun itu, termasuk belajar. Jadi kalau untuk menunjang nilai akademis, harus sungguh-sungguh saat belajar dan ngga setengah-setengah saat ngerjain tugas atau mau ujian. Masalah hasil, itu sudah beda persoalan, yang penting kita sudah berusaha. Tapi saya percaya kok kalau usaha itu tidak menghianati hasil.
  2. organisasi apa saja rasanya akan membantu karena lewat organisasi kita belajar banyak hal termasuk leadership dan teamwork. saran saya, akan lebih baik ketika kita berkecimpung di organisasi di bidang yang kita minati atau yang kita kuasai.
  3. harusnya pertanyaan ini diajukan ke interviewer, atau reviewer beasiswa hehe. Tapi berdasarkan yang sudah-sudah, tidak sedikit teman saya yang keren secara akademis, namun belum berhasil mendapatkan beasiswa, ada banyak faktor yang dilihat reviewer beasiswa yang saya juga tidak tau apa sih. Tapi mempunyai prestasi non akademik itu tentu akan menjadi poin plus bagi pendaftar itu sendiri
  4. perlu digarisbawahi lagi apa itu pengertian leadership itu. Kalau leadership diidentikan dengan sosok yang menjabat sebagai pemimpin atau ketua organisasi, rasanya perlu dilihat lagi. Sosok leadership itu terlihat bagaimana kemampuan orang itu untuk “mempengaruhi” orang lain. leadership itu tidak harus dalam skala yang besar atau organisasi kok, dan tidak melulu tentang orang dengan jabatan tertentu. kita bisa melihat sisi leadership seseorang hal-hal sederhana, mislanya ketika dalam kerja kelompok di kelas. bagaimana dia berinteraksi dengan teman sekelompoknya, mengatasi permasalahan dikelompoknya, seperti itu

Pertanyaan ke 5 sesi 2

Mau bertanya, Kalo misalkan beda jurusan yang diambil di S2 / ga linear itu berpengaruh ga di tahap wawancara. Sy denger beberapa pengalaman sebelumnya ada yg ga linear terus pas wawancara ditanya habis2an(di debat mengenai jurusan TSB, karena ga linear). Kasih tips dong kak Dian Kalo misalkan jurusan ga linear S1 Dan S2 itu gimana ya mengatasi wawancara nya. Terimakasih

sebenernya ngga masalah mau ambil jurusan yang tidak linear saat S2. dengan catatan kamu punya alasan yang kuat kenapa kamu ambil jurusan berbeda. Ada beberapa temanku yang jurusan S1 dan S2nya tidak linear dan berhasil saat tahap wawancara. Langsung kasih contohnya ya, temanku S1nya sastra, S2nya ambil pendidikan. Beliau berusaha meyakinkan interviewer dengan pengalaman kerja yang beliau punya sebagai guru bahwa dengan pengalamannya itu beliau berkapasitas masuk magister jurusan pendidikan. Jadi coba yakinkan interviewer dengan potensi atau pengalaman yang kamu punya

Pertanyaan terakhir

Kan gini kadang-kadang niat kita itu sering luntur karena di sebabkan oleh faktor – faktor tertentu mungkin krna faktor ekonomi atau faktor keluarga,Nah bagaimna sih kak caranya agar niat kita itu tidak Mudah luntur dan bgaimana cara kita untuk mempertahankan niat kita?

Coba berkumpul dengan orang yang punya tujuan yang sama denganmu. dengan kegagalan dua kali dalam mengejar beasiswa, aku sempet give up untuk lanjutin sekolah. keadaannya waktu itu aku udah lulus kuliah tapi belum punya kerjaan tetap. selain itu, bekerja sebagai asisten dosen dan asisten peneliti membuatku terlihat jadi pengangguran. alhasil orang-orang mulai bertanya kenapa aku ngga kerja padahal udah lulus kuliah.

Tapi alhamdulillah, teman-teman saya selalu kembali mengingatkan dan menyemangati saya. dengan berkumpul bersama teman-teman yang mempunyai mimpi yang sama, kita bisa saling mengingatkan atau menyemangati ketika semangat lagi kendor.

dan keutamaannya mempunyai teman yang mempunyai mimpi yang sama itu adalah kita ngga merasa sendiri. Kita bisa belajar bahasa bareng, pergi ke edu expo barengan, merasa bahwa yang bersusah payah ngejar beasiswa ini bukan cuma kita doang, bahwa kita punya teman seperjuangan. Selain itu saya dan teman saya biasanya akan menanyakan progress satu sama lain, udah dimana proses mereka. kalau semangat salah satu teman kita kendor, biasanya kita akan semangati dan ingatkan lagi.

dan coba kalian bayangkan betapa senangnya kalau bisa reunian dengan teman seperjuangan di luar negeri saat udah sekolah. aku dan teman-temanku sudah mengalaminya. it’s more than happy karena ngga pernah terbayang sebelumnya and man! we did it!

========

semangat teman-teman! semoga suatu hari nanti kalian bisa meet up satu sama lain dan reuni sambil studi di luar negeri ya

perjalanan memburu beasiswa itu memang tidak mudah, but nothing is impossible. Kuatkan niat kalian dan imbangi dengan kesungguhan dalam berusaha. Kelilingi juga diri kalian dengan support systems yang mendukung cita-cita kalian agar jalan yang tidak mudah dan panjang itu terlihat berbunga dan lebih mudah. Semangat selalu teman-teman PBS2

sekian dari saya. Terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: