MITI KM || Sekolah Itu Hobi

Pemateri : Shinta Amalina Hazrati Havidz

S3 di Wuhan University of Technology di kota Wuhan, Tiongkok, jurusan Enterprise management with the research orientation in Financial management (Manajemen Keuangan).

Halo halo hai hai selamat malam semuaa. Satnite berfaedah dulu ya kita malam ini 😄😄

First of all, many many thanks untuk MITI Klaster Mahasiswa, terutama Mas Jamaludin, yang udah invite aku untuk isi materi malem ini. Seneng banget bisa berbagi sama temen2. Makasi juga buat temen2 yg udh mendaftar so eager to this sharing session. Let’s have a sweet sweet talk this night 😁😁

Perkenalkan, aku Shinta Amalina Hazrati Havidz (mon maap dari lahir namanya udh panjang beud 😂😂). Cukup di panggil shinta atau di rumah biasanya dipanggil mba ita wkwkwk.

Aku baru aja lulus S3 di Wuhan University of Technology di kota Wuhan, Tiongkok, jurusan Enterprise management with the research orientation in Financial management (Manajemen Keuangan).

Cerita sedikit, S1 aku di President University, Jababeka, Indonesia dan S2 di kampus yg sama dengan S3. Dari S1 sampai S3 aku jurusannya linier yaitu banking and finance, corporate finance dan financial management. Kenapa finance? Karena aku follower kakakku, dah gtu ajaa hahaha

Di seminar atau sharing session aku sebelumnya aku selalu cerita tentang “Why doctoral degree?” Atau alasan2 ku kenapa harus S3 dan info2 tentang beasiswa ke China. Nah, tema seminar malam ini mungkin sedikit unik dan anti mainstream “Sekolah itu Hobi”. Siapa sih yang jadiin sekolah itu hobi? Jarang banget kan ada orang yang mau sekolah mulu. jangan di liat sekolahnya aja, tapi dengan sekolah (lagi), apalagi keluar negeri, akan memperpanjang masa liburanmu, memperpanjang masa pencarian jati dirimu, memperpanjang proses pengembangan diri yang lebih baik dan mandiri. Nah.. menarik kan? Yuk lah merapat 😆😆

Jadi awal ceritanya aku kuliah keluar itu bukan karena keinginan sendiri, tapi disuruh oleh orang tua. Kakakku waktu itu udah berangkat duluan S2 di China dan 5 bulan kemudian aku nyusulin kakakku. Waktu itu kita berdua self-support (biaya sendiri) untuk kuliah S2 dan ketika sampai di China aku kaget banget karena hampir semua mahasiswa asing disana ternyata pemegang beasiswa pemerintah China. Waktu itu sempat kecewa karena kenapa ortu harus keluarin biaya ketika beasiswa ada. Tapi ya gimana, nasi udah jadi bubur, udah kadung sampe disana ga mungkin balik kanan. Karena biaya sendiri, keluargaku mencoba meminimalisir pengeluaran dengan cara aku tinggal satu kamar dengan kakakku. Kakak ku cowo, tp karena kakak adik jd ya diizini sama kampus. Waktu tahun 2013 pun kondisinya mahasiswa S2 masih bisa tinggal di single room (1 orang 1 kamar). Kebayang kan gimana yang harusnya 1 orang jadi 2 orang untuk 1 kamar hahaha.

Hampir satu tahun tinggal di China, tapi aku dan kakakku belum pernah jalan keluar kota Wuhan (kita kuliah di kota Wuhan). Berhubung selama ini cuma denger Tembok Besar China (Great wall) waktu pelajaran geografi pas SMP, sempat terpikir kalo kita belum sah sekolah di China kalau belum ke tembok China. Akhirnya punya rencana dengan Mas Bim (kakakku) untuk liburan kesana sebelum balada drama thesis menghantam hahaha.

2-3 bulan pertama hidup di China menyenangkan, tapi semakin lama semakin kok ya ga betah. Ingin pulang, balik kanan tapi ga mungkin. Awalnya berfikir karena masih sama2 negara asia akan aman, ternyata aku pun menghadapi culture shock. Bener2 ga betah dan ingin pulang. Sampai akhirnya awal Januari 2014 saya, Mas bim dan 2 temen kita jalan ke Beijing. Pertama kali banget aku travel di China. Waktu itu winter (musim dingin) dan kita naik tembok china di waktu musim dingin yang anginnya kencang sekali di atas. Ternyata tembok China memang panjang. Perjalanan kesanapun butuh kereta dr Beijing ke tempatnya. Singkat cerita, great wall itu memang berliku-liku, tanjakan yang curam, anak tangga yang kecil, belum lagi waktu itu suhunya -2 yang artinya oh sangat dingin sekali di atas sana. Mau nanjaknya memang tidak segampang itu. Ada turis lokal yang sampe nangis mau naik ke atas karena butuh fisik yang cukup kuat. Salah satu temanpun ada yang sudah mengajak balik kanan padahal kita belum sampai puncak. Memang masih agak jauh untuk sampai puncak, tapi hati kecil ku berkata “udah sejauh ini tapi kalo ga sampe puncak itu rasanya sayang”. Akhirnya mendaki great wall pun kita lanjutkan. Sampai akhirnya tiba di puncak! Dan itu rasanya! LUAR BIASA! Kita lihat sekeliling yang indah sekali pemandangannya. Ciptaan Tuhan itu sungguh luar biasa. Disitu saya mulai sadar, Tuhan sudah siapkan jalan terbaik untukmu, kenapa tidak disyukuri. Tuhan sudah berikan kesempatan yang belum tentu didapatkan oleh orang lain, kenapa tidak dicoba dan dijalankan. Disitu saya belajar menerima. Dan proses climbing the great wall gave me a great life lesson. Sejauh dan sesulit apapun perjalanan itu, pasti akan selalu ada jalan menuju titik akhir. Memang tidak akan mudah karena pasti berliku-liku. Jangan menyerah, teruslah berjalan, mengambil sedikit demi sedikit langkah kecil, mengumpulkan sedikit demi sedikit keberanian. You are almost there and believe that you’ll make it eventually. This was my first turning point of my life. Sejak saat itu aku belajar untuk tidak menilai hal-hal yang terlihat saja, tapi juga menilai dan menghargai hal-hal yang tersirat dan tersurat. Perbedaan budaya mulai bisa aku terima, ibaratnya sama aja di Indonesia yang orang sumatera pasti punya watak, karakter dan budaya yang berbeda dengan orang jawa. Disitu saya mulai menerima dan menghargai perbedaan. Di saat itu pula aku mulai menjalankan dengan sedikit lebih mudah karena tidak membebankan diri sendiri dengan rasa tidak bersyukur karena bersyukur itu kunci utama untuk mendapatkan kemudahan dalam kehidupan.

Traveling pertama ku di Beijing benar2 mengubah cara ku berfikir, lebih menghargai orang lain dan tidak “menjudge” orang lain dengan seenaknya. Setiap orang berbeda-beda dan mereka mempunyai hak nya untuk melakukan apa yang ingin mereka lakukan. Selalu ambil hal positif yang ada, namun kalau itu negatif tinggalkan saja. Selama itu hal baik yang bisa kamu terima, lanjutkan.

Pengalaman pertama traveling di Beijing membuat rasa nagih, pengen lagi jalan-jalan. Karena sejatinya bukan sekedar jalan2 tok, tapi malah memberikan pengalaman dan pelajaran hidup yang hebat. Disitu saya teringat pesan ibu saya. “Kalau mau jalan2 jangan hanya sekedar jalan tok, cuma sebentar. Kalau sambil sekolah kamu bisa punya waktu lebih banyak untuk jalan2 dan pilihan tempat liburanpun lebih banyak”. Pesan ini yang somehow membuat saya berfikir “Sekolah itu Hobi”. Ga melulu kamu belajar di kelas, tapi kamu bertemu teman baru bahkan dari berbagai negara dan sepanjang perjalanan sekolahku di luar, mereka tidak lihat usia dan pengalaman sebagai patokan that “you are good enough”, tapi kita justru saling dukung dan malah mereka appreciate orang2 muda yang punya semangat sekolah tinggi. Karena di usia muda masih mudah untuk merubah cara berfikir kita, kalau udah agak tua itu akan sulit merubahnya. Itu hal yang aku alami dan aku merasakan perubahan drastis untuk diriku sendiri.

Sejak saat itu membuat saya nagih keluar negeri. Bisa dapat bonus jalan2nya itu. Tapi ya kudu nabung pake kantong sendiri yes hahaha.

Beban kerja mungkin akan sedikit sulit untuk mencari waktu untuk berlibur, karena kita harus nunggu tanggal merah atau ngajuin cuti, yang artinya ga sebebas jd mahasiswa yang kl pas jadwal libur sekolah yang cukup panjang kita bisa tinggal atur mau kemana dengan budget yang udah ada. Disitu aku ngerasain proses pencarian jati diri lebih besar dan pengembangan diri lebih baik karena kita mencari tahu “who we really are”. Jadwal kuliah yang padat pun tergantikan oleh piknik cucok yang bisa kita jalani.

Aku bukan traveler yang kapan liburan kudu jalan, ngga. Tapi aku menjaga porsi balance kapan harus liburan dan kapan harus belajar, karena budgetingnya juga lumayan. Waktu lanjut S3 aku punya bucket list kota atau negara yang ingin aku kunjungi. Main bucket list nya adalah Zhangjiajie (Avatar mountain) dan Korea.

Singkat cerita awal tahun S3 ku, akhir januari 2016 aku bisa travel ke Harbin bareng adek dan teman2ku. Harbin itu kotanya paling utara dan kalo winter itu jadi tempat wisata andalan karena ice festivalnya yang sangat menarik. Sampailah ku disana bertahan hidup selama 3/4 hari untung selamat karena waktu itu suhunya bisa sampe -30 (biasanya di Indo 30 derajat udah gerah banget) dan itu berbanding terbalik dengan Indonesia. Budget ke Harbin cukup besar, karena tempat wisata disana cukup mahal. Tapi semua worth it karena memang pemandangan dan ice festivalnya indah banget.

Aku yang awalnya mau ke zhangjiajie waktu September 2017 malah pindah haluan ke Xi’an karena tiket ke zhangjiajie udah habis. Dan Xi’an juga kota yang menarik. Ibaratnya disitu kota sejarahnya masih kentel dan emang berasa liburan di China karena disuguhkan tempat wisata yang sangat menarik. Lebih senengnya lagi karena di Xi’an ada muslim street dan disitu semua makanannya halal! Senengnya gatau bilang hahaha.

2015-2017 bucket list aku belum tercapai. Dan memang punya niat di tahun terakhir kuliah harus ke Korea, mumpung di China kl mau ke korea ibaratnya tinggal kepeleset. Kalo udah balik ke Indonesia pasti sulit lagi ngaturnya. Akhirnya febuari 2018 aku berangkat ke korea. Numpang tinggal di tempat temen korea ku (Juhye Oennie), tapi aku jalannya sendiri karena Juhyue Oennie kerja waktu itu. Dan disitu aku bener2 jadi solo traveler, naik turun bis dan mencoba ngomong bahasa korea yang selama ini aku coba belajar cuma lewat nonton drama dan variety show korea. Duh rasanya seneng banget bisa nginjakin kaki di negara impian! Solo traveling ternyata seru ugak! Me time nya enak banget. Sempet nyasar tapi selalu dibantuin sama orang lokal. 2 hari di Jeju amat sangat menyenangkan dan aku ke Seoul, baru ditemani full time sama Juhyun Oennie. Temen deket aku banget waktu S2 dan karena Juhyun oennie juga aku selalu berasa punya utang ke dia karena aku selalu bilang “I’ll definitely visit korea”. Ketika sampai di korea berasa plong utangnya hahaha. Akupun ke korea pas Lunar New Year jadi aku ikut mudiknya Keluarga Juhyun oennie ke Andong dan aku ngeliat ibaratnya kota pinggiran tapi amat sangat damai karena jauh dari hiruk pikuk bisingnya kehidupan. Aku juga dapet angpao lho! Hahaha. Shortly! Aku seneng banget bisa sampe korea yang selama ini cuma ada di mimpi. Satu persatu mimpiku terwujud ketika aku melanjutkan sekolahku!

Setelah sidang Mei 2018 dan wisuda di bulan Juni, papi mami ku dateng ke wuhan untuk menghadiri wisuda aku. Yes! Papi sampe di wuhan, dapat jatah jalan2 gratis hahahah. Jadi aku ke Wuxi, Shanghai, dan Nanjing. Lumayan sehari-sehari yang penting udah sampe di kota lain, gratis pulak.

Udah mau lulus, tapi satu bucket list aku belum tercapai. Dan bucket list ini udah ada sejak aku S2. Yak! Akhirnya aku jalan2 ke Zhangjiajie di awal bulan Juli ditemeni sama Mba Tari! Dulu galaunya ga sampe ke zhangjiajie ini karena ga ada temennya. Senengnya waktu ada temen yang sama2 belum ke zhangjiajie jadi deh kita pegi bedua kek anak ilang jejalan kesana 😂😂

Lagi2 di zhangjiajie di suguhkan dengan pemandangan alam yang sangat adem untuk dinikmati. Ternyata kembali ke alam itu membuatmu tersadar dan bersyukur kembali bahwa nikmat Tuhan sungguh luar biasa. Ngirup udara seger. Melonggarkan urat2 yang kenceng. Semua terbayar dan bisa dinikmati ketika kamu sekolah, apalagi keluar negeri.

That’s why I said “Sekolah itu Hobi” karena dengan sekolah kamu memperpanjang masa liburanmu. Kamu menikmati masa mudamu. Kamu Terkadang-kadang masih bisa “males2an” sebelum disuap dengan kerjaan yang segunung.

Bener kata orang.. pergilah kamu, berjalanlah kamu sejauh mungkin. Lihatlah dunia. Banyak sekali yang belum kamu lihat dan kamu tidak tahu. Dunia ini mengajarkanmu banyak hal: bersyukur, menerima, menghargai, berusaha keras, gigih, disiplin, bertahan, terjatuh, bangkit, berjalan, hingga berlari.

Dan hal yang paling aku syukuri sampai sekarang, aku bersyukur Orang tua ku mengirimkan ku ke China untuk melanjutkan pendidikan. Benar pepatah yang mengatakan “Tuntutlah ilmu hingga ke negeri China”. Aku benar2 belajar banyak hal dan merubah mindset ku. Prinsipku yang selalu ku tanamkan adalah “Never stop LEARNING because LIFE never stops teaching”.

Semoga dengan “iming2” traveling bisa mengembalikan semangat belajar lagi untuk teman2 semua di luar sana yang aku gatau dimana untuk selalu punya dan berani untuk bermimpi dan mewujudkan mimpi itu. You should know the feeling of “When a dream is no longer a dream”.

Good luck all the people! Keep up the good work! God bless you all. Semoga selalu diberikan kesehatan dan semangat juang tinggi untuk meraih impian!

Sincerely love
-mba ita-
@shintaamalina

Pertanyaan 1

Gini kak saya mau tanya kan kak shinta ini kan memperoleh gelar doktor cukup muda di usia 25 tahun ya klo nggk salah.. nah.. mungkin bisa dibagi time managementnya biar sampai ke titik itu gmna sih.. karena nggk mudah juga bisa selesai in pendidikan doktor tpi dengan usia yg cukup masih muda.. karena perlu diketahui kalo mahasiswa baru seperti saya ini kadang sulit banget bisa bagi waktu secara maksimal.. hehe..

Halo! Jadi maba harusnya semangat sekolahnya masih berapi2 sebelum negara api menyerang 😂😂

Time management itu memang penting, tapi tetap harus adil sm diri sendiri. Jangan paksain belajar ketika otak udah mulai lelah. Cari matahari lah dulu istirahatnya biar otaknya seger kembali. Regardless itu time management, selama komit dan disiplin semua akan teratur dan akan berjalan sesuai rencana (walaupun terkadang ga sesuai rencana) paling ngga ada planning dan persiapan jadi tau konsekuensi yanh akan di hadapi. Semangat yes!! 😆

Pertanyaan 2

Assalamualaikum,, Salah satu permasalahan utama yang dihadapi oleh banyak orang saat ingin melanjutkan sekolah adalah BIAYA. Sehingga gelar master atau doktor kadang baru di capai di usia yang tidak muda lagi. Bahkan aday ang harus mencapai gelar sarjananya setelah mendapatkan SP untuk di DO krna kuliah sambil kerja dan alasan-alasan financial lainnya. Saya tau jawabannya adalah BEASISWA. Apakah mbak ita pernah punya cerita jatuh bangun dalam menggapai sesuatu tapi tetap semangat untuk meraihnya? lalu kemudian bagaimana caranya agar tetap semangat mencari beasiswa itu ketika di tolak terus menerus? Definisi sukses menurut mbak ita itu apa?

Waalaikumsalam mba! Iya pasti jawabannya beasiswa, yang kata orang skrg udh dimana2 tp masih banyak juga yang belum berhasil mendapatkannya. Tapi menariknya, aku highly appreciate mereka yang bisa kuliah sambil kerja! Karena aku tau itu bagi waktunha sulit banget. Udah kerja harus belajar lagi yang otaknya mumet sama kerjaan. Tapi kembali ke niat awal. Ketika memutuskan untuk memulai, pasti tau konsekuensinya. Hal tersulit ya menyelesaikan sampai selesai. Apakah kamu mampu bertahan sampai akhir.

Kl boleh sharing sedikit, waktu S3 seringkali aku ups and downs, berkali2 ingin menyerah. Udah ngerjain disertasi tiap hari tp ko ga beres2 ga kelar2. Bertanya ke diri sendiri “apakah aku mampu?”. Tapi ketika berada di titik itu, aku selalu bilang ke diri sendiri “You are almost there, you will be there eventually”. Ketika ingin menyerah, boleh kita menoleh ke belakang sedikir, seberapa panjang perjalanan dan pengorbanan yanh sudah dilakukan. Semoga dengan mengingat niat awal bisa membangkitkan lagi semangatnya.

Definisi sukses? Ketika kamu berhasil mengalahkan dirimu sendiri. Karna musuh terbesarmu adalah dirimu sendiri, bukan teman di kanan kiri mu. Dirimu sendiri yang bilang “aku ga mampu, aku ga bisa” itu yang harus di lawan.

Kunci tetap semangat? Coba coba coba doa doa doa, kita gatau usaha ke berapa yang berhasil. Kita gatau doa mana yang terjawab. Keduanya sama, perbanyaklah. Dan bersabar. Allah senang sm orang yang sabar. Dan percaya, Rencana Tuhan itu paling hebat 😊

SEMANGAT TERUS, TERUS SEMANGAT! Do not stop until you are proud! Ini aku quote dari atasan ku 😁

Pertanyaan 3

Untuk study abroad s2-s3 di wuhan apakah ada persyaratan ielts / bahasa China Dan Cara mendapatkan beasiswa fullfunded di wuhan gimana ?

Gmana cara dapetin beasiswa pemerintah China?

Halo!
Untuk ielts/toefl tergantung kampusnya. Ada kampus yang meminta persyaratan tersebut, ada juga yg ngga. Kalau akan mengambil pengantar dalam mandarin biasanya harus ambil bahasa dulu setaun trus ikut tes HSK, kl ga salah minimal level 4 baru bisa masuk kuliah majornya dengan pengantar mandarin.

Cara dapat beasiswa full funded dr pemerintah china biasanya cuma lengkapi dokumen persyaratan, yang utama adalah: ijazah, transkrip, 2 surat rekomendasi, dan study plan. Nah, bisa coba jalur embassy china di indonesia, atau apply melalui kampusnya. Coba googling: Chinese Governement Scholarship / Chinese Scholarship Council. Beasiswanya buka tiap awal taun: 1 januari-30 maret. Nah kl semua dokumen siap tinggal apply online (semuanya by online skrg) dan nanti tinggal mereka yang putusin siapa aja yanh bisa dapetin.

Nah… pertanyaan selanjutnya tentang studi nih mb.

Pertanyaan ke 3

apa saja yang perlu dipersiapkan untuk lanjut studi s3 di luar.

Halo mba!
Kalo S3 di China (taunya China hahah) persyaratannya sama kaya di atas. Tp biasanya study plan itu diganti dengan research proposal. Dan kalau ada publikasi bisa di upload secara online untuk dokumen pendukung. Dan beasiswa S3 biasanya lbh banyak kuota nya drpd beasiswa S2 karena mereka prioritas S3 dengan research (hasilnya keliatan)

Pertanyaan ke 4

Assalamu’alaikum, mbak.
Di China, saat apply S2/S3, apakah ada min.akreditasi prodi/univ jenjang pendidikan sblumnya? Atau batas min.GPA/IPK?

Waalaikumsalam mba. Secara pendaftaran ga ada persayaratan min akreditasi univ atau prodi. Batas GPA juga ga ada, tapi sebaiknya 3.00 ke atas krn mengingat pesaing kita dr segala penjuru dunia. Kl udh kalah di screening nilai ya cukup sulit. Jd minimal 3 lah udah baik heheh

…….

Kalo kata mb Shinta

“Sekolah itu Hobi”. Ga melulu kamu belajar di kelas, tapi kamu bertemu teman baru bahkan dari berbagai negara dan sepanjang perjalanan sekolahku di luar, mereka tidak lihat usia dan pengalaman sebagai patokan that “you are good enough”, tapi kita justru saling dukung dan malah mereka appreciate orang2 muda yang punya semangat sekolah tinggi.

Aku ingin ucapkan terima kasih banyak matur nuwun sanget sudah mau join di seminar ini. Dari seminar online yg aku ini, ini seminar termenarik karena sifatnya ga satu arah, tp dr berbagai arah. Malam mingguku bersama momod menjadi lebih berarti 🤣🤣

Btw aku promosi sedikit, krn drtd ada yanh bilang tulis novel hahah. Tadi pagi aku abis di interview untuk menjadi salah satu narasumber yang kisahku akan tulis di buku inspiratif. Semoga ketika launching nanti bisa pada beli karena narasumbernya keren2 dan semoga bisa berbagi melalui cerita kami. Kl saya yang nulis, doain semoga bisa nyelipin waktu buat nulis. Krn saya juga suka nulis heheh. Ceritaku juga sering aku share di instagram, ada di highlight story, boleh di follow @shintaamalina 😁😁

Pesanku:

No matter how tough and long the journey is, jangan pernah lelah untuk belajar, berusaha, dan berdoa. Believe that you’ll make it eventually.

Percaya kita setiap orang mempunyai perjalanan hidup yang indah jika kita ingin menjadi berbeda dari yang lain dan mencari jawaban tentang kemana kehidupan kita akan berlanjut, kemana kaki kita harus melangkah. Jangan pernah takut untuk melangkah, karena tidak ada orang yang berhak menyalahkanmu. Saya percaya kita semua disini punya sesuatu untuk dibagi.

Semangat!! Dunia membutuhkanmu ❤❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: